Menurutnya, rendahnya harga timah tidak hanya berpengaruh terhadap daya beli keluarga penambang. Bila keadaan ekonomi terus terhimpit, persoalan tersebut dapat pula memengaruhi ketenangan di dalam rumah tangga.
“Semenjak harga timah mahal, Alhamdulillah kita berkeluarga juga tenang. Bisa menjalani kehidupan dengan baik. Tapi kalau timah murah, yang tidak bertengkar pun bisa bertengkar dengan keluarga karena masalah ekonomi,” katanya.
Kini, dengan harga timah yang berada di sekitar Rp200 ribu per kilogram, Didi menyatakan kepuasannya. Harga tersebut dinilainya cukup memberi kelonggaran bagi keluarga penambang untuk mengatur kembali pengeluaran dan memenuhi kebutuhan mereka. Ia berharap keadaan demikian dapat terus terpelihara.
“Puas, sangat puas. PT TIMAH dapat mengerti masyarakat dan memikirkan ekonomi kita. Karena memang timah sekarang sangat sulit didapatkan,” ujarnya.
Menjaga Kebersamaan antara Penambang dan Perusahaan
Membaiknya harga timah membawa harapan agar masyarakat penambang dan perusahaan dapat terus berjalan bersama. Didi berharap keadaan tersebut dapat dipertahankan sehingga manfaat kegiatan pertimahan turut menggerakkan kehidupan ekonomi masyarakat.
“Kami berterima kasih kepada PT TIMAH karena dapat membuat ekonomi Belitung Timur menjadi lebih baik. Masyarakat Belitung Timur sebagian besarnya penambang rakyat,” katanya.
Dalam pandangannya, keberadaan perusahaan pertambangan milik negara memiliki peranan penting. Ia berharap hasil dari kegiatan usaha yang dijalankan perusahaan pada akhirnya dapat memberi manfaat kembali bagi masyarakat dan negara.
“PT TIMAH harus siap berdiri untuk rakyat. Kalau investor asing, keuntungan tentu ada yang dibawa keluar. Tapi kalau PT TIMAH, saya yakin keuntungannya akan kembali kepada rakyat Indonesia,” katanya.



