Bangka Belitung dan Bayang-bayang Bencana Sumatra: Ketika Alam Mengirim Peringatan yang Kita Abaikan

Bentang Sungai Lenggang, Belitung Timur, tergenang luas setelah hujan deras. Kerusakan lingkungan akibat tambang ilegal dan pembabatan hutan melemahkan daya tampung DAS, membuat air mudah meluap. Lubang tambang, sedimentasi, dan hilangnya tutupan hutan mengubah lanskap hijau menjadi genangan keruh, bukti bahwa degradasi ekologis langsung meningkatkan risiko banjir.

BANGKA BELITUNG – Bencana besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025 bukan sekadar rentetan banjir dan longsor. Ia adalah cermin refleksi dari kegagalan menjaga keseimbangan alam. Kita melihat ribuan rumah rusak, jutaan warga terdampak, dan sungai-sungai yang berubah menjadi jalur kehancuran. Namun persoalan utamanya tidak hanya berhenti di sana.

Justru, tragedi Sumatra memberikan satu pesan yang sangat dekat bagi kita di Bangka Belitung: kita berada di jalan yang sama.

Siklon tropis mungkin jarang menyentuh pulau ini. Tapi kerusakan ekologis? Itu sudah menjadi keseharian. Dan sejarah bencana di Indonesia membuktikan bahwa ketika alam retak di hulu, manusia yang menanggungnya di hilir.


Bencana Tidak Lagi Datang dari Langit, tapi dari Tangan Kita Sendiri

Kita sering menyebut banjir sebagai bencana alam. Padahal, di banyak tempat, alam sudah lama tidak menjadi pelakunya. Di Sumatra, curah hujan ekstrem hanyalah pemicu. Penyebab sesungguhnya adalah kerusakan ekologis: hutan gundul, sungai yang dikecilkan, tambang yang meninggalkan luka menganga.

Di Bangka Belitung, pola itu sudah ada:

  • lubang-lubang tambang yang dibiarkan begitu saja,

  • DAS Sungai Lenggang yang semakin rusak,

  • hutan di hulu yang terus menyusut,

  • dan sedimentasi yang membuat sungai semakin dangkal.

Ketika hujan deras benar-benar datang, kita tidak bisa lagi menyalahkan cuaca.
Karena yang merusak daya tahan alam adalah kita sendiri.


“Kita Tinggal Menunggu Jatah Hari Sial” Peringatan yang Bukan Sekadar Kata-Kata

Endro Siswono, pendiri kampanye #SaveBabel, menegaskan bahwa Bangka Belitung sedang menumpuk risiko ekologis. Sebuah risiko yang tidak berteriak, tetapi diam—menunggu satu pemicu untuk berubah menjadi bencana.

Dan pemicu itu tidak harus badai.
Cukup hujan lebat berturut-turut.
Cukup satu sungai yang kehilangan kapasitasnya.
Cukup satu lubang tambang yang jebol.

Sumatra adalah bukti nyata:
bencana besar tidak muncul karena satu hari hujan, tapi karena bertahun-tahun kerusakan yang dibiarkan.

Di Babel, proses itu sedang berjalan, perlahan namun pasti.

BACA JUGA: Di Balik 770 Nyawa yang Pergi: Luka Mendalam Aceh–Sumut–Sumbar


Alam Selalu Memberi Tahu, Kita yang Tidak Mendengarkan

Editorial ini bukan untuk menakut-nakuti. Ini adalah ajakan untuk melihat kenyataan. Setiap kerusakan yang kita maklumi hari ini—atas nama ekonomi, kepentingan sesaat, atau alasan “mencari nafkah”—adalah utang ekologis yang harus dibayar oleh orang lain.

Oleh tetangga kita.
Oleh keluarga kita.
Oleh anak-anak kita.

Seperti kata Endro:

“Setiap apa yang kita rusak, pasti orang lain akan ikut menanggung akibatnya.”

Dan itu bukan teori. Itu hukum alam.

Hamparan kawasan Sungai Lenggang di Belitung Timur tampak digenangi air hingga meluas, memperlihatkan bagaimana hilangnya tutupan hutan dan aktivitas tambang yang merusak bentang alam telah melemahkan kemampuan daerah ini menahan limpasan air.

Saatnya Memilih Masa Depan: Terus Merusak, atau Mulai Mengelola

Editorial ini mengajak semua pihak—pemerintah, pelaku usaha, penambang, dan masyarakat—untuk memilih arah:

  • Apakah kita akan menunggu tragedi seperti di Sumatra?

  • Atau kita belajar sebelum terlambat?

Menjaga alam bukan tentang melarang orang mencari nafkah.
Tetapi memastikan bahwa nafkah hari ini tidak menjadi musibah untuk orang lain esok hari.

Karena bencana ekologis bukan soal siapa salah dan siapa benar.
Ini soal siapa yang akhirnya menjadi korban.


Babel Masih Punya Kesempatan

Jangan sampai Sungai Lenggang menjadi halaman depan tragedi berikutnya.
Jangan sampai lubang-lubang tambang menjadi titik awal banjir bandang.
Jangan sampai kita menuliskan berita duka yang sebenarnya bisa dicegah.

Sumatra sudah membayar mahal.
Bangka Belitung tidak harus mengikuti jejak yang sama.

Alam sudah memperingatkan. Tinggal kita mau dengar atau tidak.

Tag: