Budi mengatakan, peran PT TIMAH juga telah dirasakan dalam penanganan kebakaran di wilayah Bangka bagian utara maupun Bangka Barat.
“Untuk membantu terutama di wilayah utara, Kabupaten Bangka, responsnya luar biasa. Begitu juga di Kabupaten Bangka Barat sangat membantu,” katanya.
Menurut Budi, tantangan dalam menangani karhutla tidak dapat dipikul oleh satu instansi semata. Kebersamaan menjadi kunci agar kobaran api dapat segera dikendalikan sebelum menjalar semakin luas.
“Jika semua stakeholder, baik BUMN, vertikal maupun pemerintah, sudah bersatu untuk membantu sesama, insyaallah kita akan lebih kuat dalam menghadapi cuaca atau musim El Nino Godzilla ini,” ujarnya.
Ia kembali menyampaikan penghargaan kepada PT TIMAH yang terus mendampingi pemerintah dalam upaya penanganan karhutla di Bangka Belitung.
“Terima kasih banyak buat PT TIMAH yang telah membantu kami pemerintah provinsi. Pak Gubernur juga memberikan apresiasi kepada rekan-rekan, terutama pemadam di PT TIMAH itu sendiri,” katanya.
Pasokan Air Menjadi Tantangan di Lapangan
Dalam penanganan karhutla, ketersediaan sumber air menjadi salah satu kendala yang dihadapi para petugas. Kapasitas tangki armada pemadam yang terbatas membuat petugas harus meluangkan waktu untuk mengisi kembali persediaan apabila tidak tersedia pasokan air di sekitar lokasi kebakaran.
Budi menjelaskan, armada pemadam pada umumnya membawa sekitar empat hingga lima ton air. Ketika persediaan tersebut habis sementara sumber air maupun armada penyuplai tidak tersedia, petugas membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 30 menit untuk melakukan pengisian kembali.



