Khairul turut menanggapi aksi unjuk rasa yang sempat terjadi di Belitung Timur. Sebagai warga yang menggantungkan hidup dari sektor pertambangan, ia memahami keresahan penambang ketika menghadapi kesulitan menjual hasil tambang.
Namun, menurutnya, penyampaian aspirasi tetap harus dilakukan secara tertib dan tidak berujung pada tindakan anarkis.
“Kalau melihat saya sendiri pribadi, terlalu anarkis. Unjuk rasa itu boleh, tapi tidak harus melalui anarkis seperti itu,” katanya.
Ia menilai situasi yang sempat memanas tidak terlepas dari tekanan yang dirasakan masyarakat setelah mengalami kesulitan menjual timah selama beberapa waktu.
Meski demikian, Khairul berharap peristiwa tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak sekaligus momentum untuk memperbaiki sistem penjualan timah rakyat.
Bagi Khairul, harapannya tetap sederhana: harga timah berada pada tingkat yang layak, hasil tambang dapat dijual dengan lancar, dan penambang rakyat tetap memiliki ruang untuk mencari nafkah bagi keluarganya. (*)



