“Kadang harga timah seperti kemarin tidak stabil. Kadang ada yang Rp130 ribu, Rp140 ribu, itu juga susah. Mau jual ke mana? Kalau sana-sini sudah tutup,” ujarnya.
Menurut Khairul, persoalan penambang rakyat bukan semata-mata mengenai berapa harga yang diterima. Kepastian tempat menjual dan kelancaran transaksi juga menjadi bagian penting dari mata rantai ekonomi mereka.
Ketika harga mulai membaik, persoalan lain terkadang muncul berupa antrean penjualan akibat banyaknya hasil timah yang hendak disalurkan.
“Kalau harga kita sudah bagus, sudah puas sebagai masyarakat. Harga seperti ini ekonomi juga tetap terbantu, sangat terbantu. Karena operasional dengan penghasilan agak sesuai, tapi harus antre seperti ini,” katanya.
Khairul menilai harga yang lebih sesuai dengan biaya operasional memberi ruang bagi penambang rakyat untuk tetap bertahan sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menambang Masih Jadi Pilihan Utama
Ketergantungan terhadap sektor pertambangan membuat Khairul belum melihat banyak pilihan pekerjaan lain yang dapat menggantikan sumber penghasilannya dalam waktu dekat.
Baginya, menambang masih menjadi pekerjaan yang paling memungkinkan untuk dilakukan karena hasilnya dapat diperoleh dalam waktu relatif cepat, meskipun jumlahnya tidak selalu besar.
“Profesi penambang ini satu-satunya yang bisa saya lakukan. Kalau di pertambangan lebih simpel. Pergi pagi, sore sudah dapat duit, meskipun tidak seberapa,” katanya.



