Menapak Jejak Peh Cun di Bangka, Mengenang Sejarah dan Melestarikan Tradisi di Tepian Laut Nusantara

PANGKALPINANG – Perayaan Peh Cun di Pulau Bangka tidak dapat dilepaskan dari keberadaan kue cang atau bakcang yang menjadi salah satu simbol penting dalam tradisi tersebut. Setelah dibuat dari ketan yang dibungkus daun pandan maupun daun bambu, kue ini tidak hanya disantap bersama keluarga, tetapi juga dibawa ke pantai untuk kemudian dihanyutkan ke laut.

Tradisi yang telah berlangsung sejak lama itu menyimpan kisah tentang penghormatan kepada Qu Yuan, seorang pejabat yang dikenang karena ketulusan, kesetiaan, dan pengabdiannya kepada rakyat.

Di balik bentuk sederhana kue cang, tersimpan nilai sejarah yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui perayaan Peh Cun, masyarakat Tionghoa mengenang perjalanan hidup seorang tokoh yang dianggap sebagai lambang kejujuran dan kecintaan terhadap tanah airnya.

Mengenang Sosok Qu Yuan Lewat Tradisi Peh Cun

Tradisi Peh Cun berakar pada kisah Qu Yuan, pejabat negara Chu yang hidup pada masa negara-negara berperang di Tiongkok. Sosoknya dikenal sebagai pejabat yang setia kepada negara dan mendapat tempat di hati rakyat.

Belajar Bahaya Kebakaran dengan Cara Seru, Puluhan Siswa TK Ikuti Edukasi Keselamatan dari PT TIMAH

Menurut Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, Dato’ Akhmad Elvian, istilah Peh Cun dalam bahasa Hokkian berarti “mendayung perahu”. Di Pulau Bangka, perayaan ini diperingati setiap tanggal 5 bulan 5 dalam kalender Imlek dan lebih dikenal dengan sebutan Ng Ngiat Ciat.

Peh Cun di Bangka memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan daerah lain. Jika sebagian wilayah mengenalnya melalui tradisi mendirikan telur, masyarakat Tionghoa Bangka lebih akrab dengan pembuatan kue cang atau bakcang.

Kue tersebut dibuat dari ketan yang diisi daging babi, daging ayam, ataupun udang. Setelah dibentuk menyerupai prisma, ketan dibungkus menggunakan daun pandan atau daun bambu lalu diikat dengan tali yang berasal dari kulit kayu.

Selain menjadi hidangan keluarga, kue cang juga dibawa ke sejumlah pantai yang berada di sekitar kawasan permukiman Tionghoa atau pat kong mun. Tradisi ini dilakukan di Pantai Buntu di Mentok, Sabang di Toboali, Komuk di Koba, Pinang di Pangkalpinang, Liusak di Baturusa, Liatkong di Sungailiat, Blijong di Belinyu, serta Nampong di Jebus.

Di tempat-tempat tersebut, kue cang dilemparkan ke laut sebagai simbol agar ikan tidak memakan jasad Qu Yuan.

KB-TK St. Theresia I Pangkalpinang Dapat Apresiasi Pemkot, Pembelajaran Berbasis Kasih Dinilai Mampu Membentuk Karakter Anak

Qu Yuan sendiri diketahui hidup sekitar tahun 339 hingga 277 Sebelum Masehi. Setelah merasa kecewa terhadap kondisi negaranya, ia memilih mengakhiri hidup dengan menceburkan diri ke Sungai Miluo.

Peristiwa tersebut kemudian dikenang melalui perayaan Peh Cun yang menjadi lambang penghormatan terhadap nilai patriotisme, kesetiaan, dan kejujuran.


Peh Cun dan Kearifan yang Menyertai Alam

Di Bangka, perayaan Peh Cun juga berkaitan dengan fenomena alam yang telah lama menjadi pengetahuan masyarakat.

Pada masa perayaan berlangsung, air laut biasanya mengalami surut cukup jauh sehingga bentangan pantai tampak lebih luas dari biasanya. Kondisi tersebut terjadi ketika matahari berada pada titik kulminasi dan mencapai posisi tertinggi sekitar pukul 12.00 siang.

Bank Sumsel Babel Hadirkan Promo Kuliner Menarik, Scan QRIS BSB Mobile dan Dapat Diskon Rp10.000 di Bakso Malang Mba Yuli

Momen itu juga dipercaya memiliki arti khusus dalam tradisi pengobatan tradisional. Para sinshe atau tabib memanfaatkan waktu tersebut untuk mencari berbagai jenis tanaman obat yang diyakini memiliki kualitas terbaik.

Tanaman yang diperoleh kemudian digantung di depan rumah sebagai bagian dari tradisi yang terus dipelihara secara turun-temurun.

Selain itu, masyarakat juga mengenal tradisi Ng Sie Sui, yakni menyiramkan air yang telah dicampur bunga ke tubuh. Tradisi ini dipercaya dapat membantu menjaga kesehatan sekaligus memberikan kesegaran.

Peh Cun juga kerap dikaitkan dengan tradisi mendirikan telur. Banyak masyarakat meyakini telur lebih mudah berdiri tegak ketika perayaan berlangsung karena posisi matahari berada pada titik kulminasi.

Meski demikian, secara ilmiah telur dapat didirikan kapan saja selama ditempatkan pada bidang yang datar. Faktor utama yang menentukan keberhasilannya adalah keseimbangan dan ketelitian saat menempatkannya.


Menjadi Bagian dari Identitas Budaya Bangka Belitung

Seiring berjalannya waktu, Peh Cun berkembang menjadi tradisi yang tidak hanya dikenal oleh masyarakat Tionghoa, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Bangka Belitung.

Hal yang sama terlihat pada kue cang atau bakcang. Jika dahulu hanya identik dengan perayaan Peh Cun, kini makanan tersebut dapat ditemukan sepanjang tahun dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat.

Dalam sudut pandang gastronomi, kue cang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari gastrodestinasi dan gastrodiplomasi daerah. Keberagaman isi, bentuk, dan cita rasa yang ditampilkan dalam berbagai perayaan Peh Cun menjadi daya tarik tersendiri yang memperkaya warisan budaya Bangka Belitung.

Lebih dari sekadar sebuah perayaan tahunan, Peh Cun menjadi pengingat bahwa warisan budaya akan tetap hidup selama nilai-nilai yang terkandung di dalamnya terus dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Di Pulau Bangka, warisan tersebut masih terpelihara hingga kini, bahkan melalui sebungkus kue cang yang setiap tahun dibawa menuju tepian laut sebagai bagian dari tradisi yang tetap lestari. (Rz)

Bagikan