JAKARTA – PT TIMAH (Persero) Tbk mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan dan operasional yang signifikan sepanjang Semester I 2026. Hal itu tercermin dalam Laporan Keuangan Konsolidasian untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026 yang diumumkan perseroan, Selasa (28/7/2026).
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kondisi pasar timah global yang tetap solid, didukung harga timah yang berada pada level tinggi, peningkatan volume penjualan, serta fundamental industri yang masih menunjukkan prospek positif.
Fundamental Pasar Timah Tetap Kokoh
Sepanjang Semester I 2026, pasar timah global tetap menunjukkan fundamental yang kuat di tengah dinamika ekonomi, ketidakpastian geopolitik global, serta perkembangan kebijakan perdagangan internasional yang masih memengaruhi sentimen pasar.
Harga rata-rata logam timah Cash Settlement Price di London Metal Exchange (LME) selama Semester I 2026 tercatat sebesar USD50.319,19 per metrik ton atau meningkat 56,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD32.115,77 per metrik ton.
Kenaikan harga tersebut didukung oleh kondisi pasokan global yang masih ketat akibat terbatasnya produksi tambang di sejumlah negara produsen utama.
Seiring berjalannya Semester I 2026, kondisi pasokan timah global mulai menunjukkan perbaikan yang ditandai meningkatnya persediaan logam di gudang LME serta pemulihan produksi di beberapa wilayah.
Persediaan timah di gudang LME pada akhir Juni 2026 tercatat sebesar 8.575 ton atau meningkat 58,36 persen dibandingkan posisi awal tahun 2026 yang sebesar 5.415 ton.
Di sisi permintaan, pasar timah global tetap didominasi oleh segmen solder yang menyumbang sekitar 50 persen dari total konsumsi dunia, terutama untuk industri semikonduktor dan elektronik.
Prospek permintaan diperkirakan tetap positif seiring berlanjutnya transformasi digital dan transisi energi global yang mendorong investasi pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pusat data (data center), kendaraan listrik (electric vehicle), sistem penyimpanan energi (energy storage), serta infrastruktur kelistrikan.
Berdasarkan CRU Tin Monitor, produksi logam timah global pada Semester I 2026 mencapai 173.536 ton, sedangkan konsumsi logam timah global sebesar 179.256 ton. Kondisi tersebut menunjukkan pasar timah global masih berada dalam kondisi defisit pasokan (supply deficit) yang diperkirakan menjadi penopang prospek industri timah pada Semester II 2026.
Pendapatan dan Laba Tumbuh Signifikan
Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp10,42 triliun pada Semester I 2026 atau meningkat 247 persen dibandingkan Semester I 2025 yang sebesar Rp4,22 triliun.
Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan volume penjualan serta meningkatnya harga jual rata-rata logam timah di tengah kondisi pasar yang masih kondusif.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, PT TIMAH berhasil membukukan laba usaha sebesar Rp3,48 triliun atau meningkat signifikan dibandingkan Semester I 2025 yang sebesar Rp0,38 triliun.
Perseroan juga mencatatkan EBITDA sebesar Rp3,90 triliun atau meningkat 363 persen dibandingkan EBITDA Semester I 2025 sebesar Rp0,84 triliun.
Sementara itu, laba bersih Perseroan pada Semester I 2026 mencapai Rp2,71 triliun atau melampaui target laba bersih Perseroan tahun 2026 sebesar Rp1,61 triliun, setara dengan 169 persen dari target yang telah ditetapkan.
Posisi Keuangan Semakin Kuat
Dari sisi posisi keuangan, nilai aset Perseroan pada Semester I 2026 meningkat 21 persen menjadi Rp16,45 triliun dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp13,64 triliun.
Posisi liabilitas tercatat sebesar Rp5,90 triliun atau meningkat 13 persen dibandingkan akhir tahun 2025 yang sebesar Rp5,23 triliun.
Sementara itu, ekuitas Perseroan meningkat 25 persen menjadi Rp10,55 triliun dari Rp8,41 triliun pada akhir tahun 2025, didukung oleh pencapaian laba bersih selama Semester I 2026.
Peningkatan kinerja tersebut juga tercermin dari rasio profitabilitas Perseroan. Pada Semester I 2026, PT TIMAH membukukan Operating Margin sebesar 33,24 persen, meningkat dibandingkan Semester I 2025 yang sebesar 9,01 persen.
EBITDA Margin tercatat sebesar 37,39 persen dibandingkan 19,92 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Net Profit Margin meningkat menjadi 26,05 persen dari 7,11 persen.
Perseroan juga mencatatkan Return on Assets (ROA) sebesar 16,50 persen dibandingkan 2,20 persen pada Semester I 2025 serta Return on Equity (ROE) sebesar 25,74 persen dibandingkan 3,57 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pencapaian tersebut menunjukkan kemampuan Perseroan dalam mengoptimalkan pemanfaatan aset dan modal untuk menciptakan nilai tambah bagi para pemegang saham. (Rz)




