PANGKALPINANG – Sebagai bentuk penghargaan dan dukungan atas keberhasilan Alobi Foundation meraih Kalpataru Adya Tahun 2026 Kategori Penyelamat Lingkungan, penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup di Indonesia, Pemerintah Kota Pangkalpinang menggelar malam syukuran dan ramah tamah di Rumah Dinas Residen Wali Kota Pangkalpinang, Minggu (21/6/2026) malam.
Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin, menyampaikan bahwa Alobi Foundation telah menjadi bagian dari perjalanan Kota Pangkalpinang. Oleh sebab itu, pemerintah daerah memandang perlu memberikan penghormatan atas pencapaian yang diraih lembaga tersebut.
“Bagi kami, Alobi Foundation adalah bagian dari Kota Pangkalpinang. Karena itu, pemerintah kota merasa perlu memberikan apresiasi dan penghormatan atas prestasi yang telah diraih,” ujar Wali Kota Profesor Saparudin dalam sambutannya.
Jejak Panjang yang Berbuah Penghargaan
Menurut Prof. Saparudin, penghargaan yang diterima Alobi Foundation merupakan hasil dari ketekunan dan komitmen yang telah dijalankan selama bertahun-tahun dalam menjaga kelestarian lingkungan di Bangka Belitung.
“Saya selalu mengatakan kepada Laksani dan pegiat lingkungan, jika ingin bergerak di bidang lingkungan, harus dijalani secara penuh, konsisten, dan tidak berhenti sampai berhasil. Dan hari ini penghargaan itu menjadi bukti dari perjuangan selama 12 tahun,” kata Saparudin.
Ia menilai keberhasilan tersebut dapat menjadi penyemangat bagi kalangan muda dan berbagai komunitas lingkungan untuk terus mengambil peran dalam upaya menjaga alam dan ekosistem.
Dalam pandangannya, manusia dan lingkungan hidup merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena itu, kemajuan pembangunan perlu berjalan beriringan dengan upaya pelestarian alam.
“Allah menciptakan manusia dan alam semesta untuk hidup berdampingan. Ketika tumbuhan dan satwa punah, kita kehilangan bagian penting dari kehidupan dan pembelajaran. Karena itu menjaga lingkungan bukan pilihan, tetapi kewajiban,” tegasnya.
Membangun dengan Tetap Menjaga Kelestarian
Pada kesempatan itu, Prof. Saparudin juga menyoroti kondisi Bangka Belitung yang memiliki kekayaan sumber daya mineral. Ia menilai aktivitas pertambangan membawa konsekuensi terhadap lingkungan sehingga diperlukan langkah-langkah pemulihan dan konservasi yang berkelanjutan.
“Tidak ada aktivitas pertambangan yang tidak berdampak terhadap lingkungan. Karena itu harus ada keseimbangan. Pelaku usaha, khususnya sektor tambang, perlu mendukung kegiatan pelestarian lingkungan, sementara para pegiat lingkungan terus bergerak melakukan pemulihan dan konservasi,” katanya.
Ia mengajak seluruh elemen, termasuk perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan, untuk turut mengambil bagian dalam mendukung upaya penyelamatan lingkungan demi kepentingan generasi masa depan.
Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Pangkalpinang tengah mempersiapkan penyusunan tata ruang baru. Dalam proses tersebut, pemerintah membuka ruang keterlibatan bagi para pegiat lingkungan untuk memberikan masukan dan pandangan.
“Kami ingin pelaku-pelaku lingkungan dilibatkan untuk memberikan masukan dalam penyusunan tata ruang Kota Pangkalpinang. Karena kota yang baik adalah kota yang mampu menyeimbangkan pembangunan dengan kelestarian lingkungan,” katanya.
Malam syukuran dan ramah tamah tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Kota Pangkalpinang, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), perwakilan perusahaan, mitra lingkungan, serta pengurus dan relawan Alobi Foundation. Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan ditutup dengan makan malam bersama. (Rz)






