JAKARTA – Bukan sulap, bukan pula sihir. Sebuah genteng berbahan sabut kelapa berhasil mencuri perhatian Presiden Prabowo Subianto. Bukan sekadar dilihat atau diketuk, genteng hasil inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu bahkan dibanting dan diinjak langsung oleh Presiden. Hasilnya, genteng tetap utuh dan tidak pecah.
Momen tersebut terjadi saat Prabowo menerima sekitar 150 peneliti BRIN di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (6/8/2026). Dalam pertemuan itu, sejumlah hasil riset dan inovasi karya peneliti Indonesia diperkenalkan kepada Presiden.
Dari Diketuk sampai Dibanting
Saat meninjau stan pameran hasil riset BRIN, perhatian Prabowo tertuju pada genteng berbasis biomassa yang dikembangkan Pusat Riset Biomassa Indonesia.
Peneliti kemudian mempersilakan Presiden menguji sendiri ketahanan genteng tersebut.
“Bisa dilempar Pak, silakan Pak. Kalau diinjak juga silakan Pak,” ujar peneliti kepada Prabowo.
Prabowo mengangkat genteng berwarna cokelat tersebut dan mengetuk-ngetuk permukaannya. Tak berhenti di sana, Presiden kemudian membanting dan menginjak genteng itu.
Setelah melewati “uji banting” tersebut, genteng tetap utuh dan tidak mengalami kerusakan.
“Genteng ini kuat ya? Nggak mudah pecah?” tanya Prabowo kepada peneliti BRIN.
Prabowo Langsung Tanya Produksi Massal
Melihat ketahanannya, Prabowo tampak tertarik. Presiden langsung menanyakan kemungkinan genteng tersebut diproduksi dalam jumlah besar, termasuk peluang pemanfaatannya untuk program gentengisasi.
“Tapi ini bagus nih. Ini bisa produksi massal?” ujar Prabowo.
Prabowo juga menanyakan sosok peneliti di balik inovasi tersebut. Genteng biomassa itu diperkenalkan oleh Prof. Sukma Surya Kusumah dari Pusat Riset Biomassa Indonesia, BRIN.
Sabut Kelapa Jadi Material Atap
Prof. Sukma menjelaskan, genteng tersebut dibuat menggunakan limbah biomassa, terutama sabut kelapa. Pemanfaatan bahan alami itu diharapkan menjadi alternatif material bangunan yang lebih ramah lingkungan.
Selain ringan, genteng tersebut juga diklaim memiliki daya tahan tinggi terhadap benturan. Demonstrasi di hadapan Presiden memperlihatkan genteng tetap utuh setelah dibanting dan diinjak.
Dari sisi harga, Sukma menyebut genteng tersebut saat ini berada pada kisaran Rp15.000 hingga Rp26.000 per buah. Apabila nantinya diproduksi dalam skala besar, harga diperkirakan dapat ditekan hingga sekitar Rp10.000 per genteng.
Untuk satu rumah tipe 36, kebutuhan genteng diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp11 juta.
“Untuk tipe 36 total biayanya sekitar Rp11 juta untuk gentengnya, Bapak,” kata Sukma.
Sudah Diterapkan di Nias
Teknologi genteng biomassa tersebut sebelumnya juga telah diterapkan dalam program bantuan TNI Angkatan Darat di Nias. Untuk rumah berukuran 4 x 6 meter, kebutuhan genteng diperkirakan mencapai sekitar Rp12 juta.
Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pertemuan dengan Presiden menjadi kesempatan bagi sekitar 150 peneliti untuk memaparkan berbagai hasil riset strategis yang dikembangkan BRIN.
Riset yang diperkenalkan mencakup 12 klaster, mulai dari ketahanan pangan, energi, dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG), teknologi untuk kampung nelayan, antariksa, penerbangan, nuklir, logam tanah jarang, perumahan, transportasi, hingga kesehatan.
Dari Limbah Menuju Produksi Massal
Inovasi genteng biomassa menjadi salah satu teknologi yang mendapat perhatian Presiden. Hal tersebut sejalan dengan dorongan penggunaan material atap yang lebih sehat dan ramah lingkungan sebagai alternatif seng maupun asbes.
Prabowo sebelumnya juga menyinggung penggunaan material alami seperti genteng, ijuk, dan rumbia yang sejak dahulu digunakan masyarakat Indonesia sebagai penutup atap rumah.
Melalui inovasi berbahan sabut kelapa ini, hasil riset nasional diharapkan tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi dapat dikembangkan menuju produksi massal.
Jika mampu diproduksi dengan harga yang semakin kompetitif, limbah sabut kelapa berpotensi mendapatkan nilai tambah sebagai material bangunan. Dan di hadapan Presiden, inovasi tersebut sudah melewati satu pengujian yang cukup tak biasa: dibanting dan diinjak, tetapi tetap utuh. (Rz)




