PANGKALPINANG – Pembukaan Diklatda I AMPG Bangka Belitung tak berhenti di ruang kaderisasi. Di sela agenda tersebut, Ketua Umum PP Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Sa’id Aldi Al Idrus menemui Dipo, korban kecelakaan tunggal yang telah mengalami kelumpuhan selama kurang lebih 14 tahun.
Sa’id datang bersama jajaran PP AMPG dan menyerahkan bantuan berupa ranjang pasien untuk menunjang perawatan Dipo. Dalam kunjungan itu, ia juga menyampaikan komitmen untuk menanggung biaya pengobatan selama enam bulan.
Aksi sosial tersebut menjadi sisi lain dari kunjungan PP AMPG ke Bangka Belitung. Sebelumnya, Sa’id menghadiri pembukaan Diklatda I PD AMPG Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang diikuti kader muda dari berbagai kabupaten dan kota.
Sa’id didampingi Sekretaris Jenderal PP AMPG Ubaidillah, Wakil Ketua Umum Bidang OKK Zico Odang, Wakil Ketua Umum Ilham Akbar, serta jajaran pengurus pusat. Rombongan turut didampingi Ketua PD AMPG Babel Putra Dwijasa Altolika bersama jajaran pengurus daerah.
Namun, Diklatda kali ini diarahkan lebih dari sekadar agenda konsolidasi internal.
Para kader mendapat pembekalan kepemimpinan, wawasan organisasi, kemampuan strategis, hingga kesiapan menghadapi perubahan yang bergerak cepat di tengah generasi muda.
Pesannya cukup jelas: kaderisasi tak cukup jika hanya menghasilkan kader yang paham struktur dan organisasi. Kapasitas itu juga dituntut memiliki relevansi ketika dibawa ke tengah masyarakat.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, pesan kaderisasi itu dirumuskan:
“Kaderisasi bukan hanya tentang membentuk kader yang memiliki kapasitas organisasi, tetapi juga membangun kepekaan sosial dan kepedulian terhadap sesama.”
Pendekatan yang menghubungkan kaderisasi dengan kerja sosial juga sejalan dengan arah yang beberapa kali disampaikan PP AMPG sepanjang 2026. Sa’id sebelumnya mendorong kader muda AMPG untuk memperkuat kegiatan sosial dan pengabdian kepada masyarakat.

Jajaran PP AMPG dan PD AMPG Bangka Belitung berfoto bersama usai rangkaian Diklatda I dan Pengukuhan PD AMPG Kepulauan Bangka Belitung periode 2025–2030.
Kaderisasi Tak Cukup Cuma Jago Organisasi
Diklatda I AMPG Babel kemudian menjadi ujian sederhana tentang arah kaderisasi anak muda di organisasi politik: apakah berhenti pada forum, materi dan konsolidasi, atau mampu diterjemahkan menjadi sesuatu yang punya dampak di luar organisasi.
Bagi kader muda, tantangannya juga berubah.
Mereka berhadapan dengan generasi yang semakin kritis, cepat menerima informasi, dan tidak mudah terkesan hanya oleh simbol maupun jargon organisasi. Kapasitas, gagasan dan rekam kerja menjadi semakin relevan.
Karena itu, proses kaderisasi diarahkan untuk membentuk kader yang bukan hanya memahami mesin organisasi, tetapi juga mampu membaca persoalan di sekitarnya.
Kunjungan kepada Dipo menjadi contoh paling konkret dalam rangkaian agenda tersebut. Setelah bicara mengenai kepemimpinan dan kapasitas kader, rombongan bergerak melihat langsung persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Bagi AMPG Babel, garis antara kaderisasi dan pengabdian itulah yang ingin dipertemukan melalui Diklatda I.
Bukan sekadar mencetak kader yang siap masuk struktur, tetapi kader yang tahu apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan persoalan nyata. (Rz)



