Pengelolaan Sampah Berbasis Lingkungan di Pangkalpinang Terus Diperkuat, TPS 3R Selindung Sulap Plastik Jadi Paving Blok dan Organik Menjadi Kompos

PANGKALPINANG – Aroma sampah masih samar menyapa di sudut TPS 3R Kawa Begawe, Kelurahan Selindung. Di tempat itulah, tumpukan plastik tidak lagi seluruhnya menempuh perjalanan menuju tempat pembuangan akhir. Sebagiannya lebih dahulu dicacah, diolah dengan peralatan sederhana, lalu dicetak menjadi paving blok yang kelak siap dimanfaatkan kembali. Sementara itu, sisa makanan, dedaunan, dan limbah organik lainnya diproses menjadi kompos yang memiliki nilai guna bagi lingkungan.

Suasana di kawasan pengolahan sampah tersebut berjalan dengan irama yang tenang. Aktivitas para pengelola berlangsung tanpa hiruk-pikuk, namun dari setiap tahapan pekerjaan yang dilakukan tampak sebuah ikhtiar untuk menghadirkan cara baru dalam menangani persoalan sampah di Kota Pangkalpinang. Perlahan tetapi pasti, pengelolaan sampah mulai diarahkan tidak hanya berakhir pada pembuangan, melainkan juga pada pemanfaatan kembali.

Selama ini, penanganan sampah lebih banyak bertumpu pada kegiatan mengangkut dan membuang ke tempat pembuangan akhir. Kini, pendekatan tersebut mulai bergeser menuju upaya mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya, sehingga beban yang harus ditanggung tempat pembuangan akhir dapat semakin berkurang.

Langkah itu ditempuh melalui penguatan semangat gotong royong di tengah masyarakat, mengaktifkan kembali fungsi TPS 3R, mengembangkan bank sampah, hingga mendorong pengolahan sampah secara mandiri di lingkungan permukiman. Keseluruhan upaya tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membangun kebiasaan baru dalam mengelola sampah secara lebih bertanggung jawab.

Langkah Bermula dari Sumber

Hari Bhayangkara ke-80, SMSI Babel Siap Bersinergi dengan Polri hingga Tingkat Bhabinkamtibmas

Apabila sebuah kawasan mampu menerapkan pengelolaan sampah berbasis lingkungan secara berkelanjutan, kawasan lain dinilai memiliki kesempatan yang sama untuk melakukannya. Oleh sebab itu, pengurangan sampah tidak lagi semata-mata bergantung pada proses pengangkutan menuju TPA, melainkan juga pada kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah sejak masih berada di lingkungan rumah tangga.

Persoalan sampah selama ini lebih banyak berkutat pada penanganan di bagian hilir. Padahal, akar persoalan justru bermula dari kebiasaan membuang berbagai jenis sampah tanpa dilakukan pemilahan. Kebiasaan tersebut membuat volume sampah yang harus ditangani terus bertambah dari hari ke hari.

Setiap harinya, sekitar 120 hingga 150 ton sampah masuk ke TPA Parit Enam. Di sisi lain, masih terdapat 33 titik sampah liar yang hingga kini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah kota dalam mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan tertata.

Di TPS 3R Selindung, sebagian persoalan tersebut diupayakan penyelesaiannya secara bertahap. Sampah organik diproses menjadi kompos dan pakan maggot, sedangkan sampah plastik diolah menggunakan teknologi sederhana hingga menghasilkan paving blok yang memiliki nilai manfaat.

Ke depan, paving blok hasil pengolahan itu direncanakan dimanfaatkan sebagai material pembangunan jalan setapak maupun taman melalui kerja sama dengan dinas terkait. Dengan demikian, hasil pengolahan sampah tidak hanya berhenti sebagai produk daur ulang, tetapi juga dapat digunakan kembali untuk mendukung pembangunan fasilitas publik.

Selain menghasilkan paving blok, pengolahan sampah plastik juga diarahkan menjadi RDF atau refuse-derived fuel, yakni bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan oleh sektor industri, seperti PLTU maupun pabrik semen.


Nilai Guna yang Kembali Tumbuh

Dari seluruh sampah yang diterima TPS 3R Selindung, hanya sekitar 30 persen yang akhirnya dibawa menuju TPA. Selebihnya berhasil dikurangi melalui berbagai proses pengolahan maupun dimanfaatkan kembali di lokasi tersebut.

Keadaan itu menunjukkan bahwa sampah tidak selalu harus dipandang sebagai barang buangan yang kehilangan manfaat. Sampah plastik masih memiliki peluang untuk didaur ulang menjadi produk yang berguna. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos maupun pakan maggot. Bahkan, sebagian jenis sampah lainnya mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.

Meski demikian, seluruh upaya tersebut dinilai tidak akan berjalan secara optimal tanpa keterlibatan masyarakat. Pemilahan sampah sejak dari rumah menjadi bagian penting dalam memperpanjang usia TPA sekaligus menekan keberadaan titik-titik sampah liar yang masih dijumpai di sejumlah kawasan.

Bank Sumsel Babel Cabang Kapten A. Rivai Hadirkan Promo Nasabah Prioritas Baru, Gratis Sewa Safe Deposit Box Selama Setahun

Oleh karena itu, masyarakat, pelaku usaha, pedagang pasar, hingga lingkungan sekolah terus didorong untuk mulai membiasakan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya. Langkah sederhana itu diyakini menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, setiap aktivitas manusia akan menghasilkan sampah. Karena itu, tanggung jawab pengelolaannya tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah, melainkan memerlukan peran bersama dari seluruh lapisan masyarakat.

Di tengah terus meningkatnya volume sampah perkotaan, keberadaan TPS 3R Selindung menjadi gambaran bahwa sebagian sampah masih layak memperoleh kesempatan kedua. Bukan semata-mata untuk dibuang, melainkan diolah kembali agar memberi manfaat yang lebih besar bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat. (Rz)

Bagikan