Raksasa Perbankan AS Bentuk Jaringan Blockchain, Deposito Masuk Era Tokenisasi

NEW YORK – Sejumlah bank terbesar di Amerika Serikat, termasuk JPMorgan, Citi, dan Bank of America, berencana membangun jaringan deposito bertokenisasi bersama pada paruh pertama tahun 2027. Langkah ini ditempuh sebagai upaya menjaga dana simpanan nasabah dari potensi ancaman yang ditimbulkan oleh semakin berkembangnya penggunaan stablecoin.

Laporan yang dimuat Wall Street Journal menyebutkan bahwa sistem tersebut akan dioperasikan oleh The Clearing House, perusahaan layanan pembayaran yang dimiliki secara kolektif oleh sejumlah bank besar di negeri itu. Di kalangan perbankan, jaringan tersebut disebut dengan berbagai nama. Sebagian menyebutnya sebagai “the bridge”, sementara yang lain mengenalnya sebagai “the chain”.

Deposito bertokenisasi merupakan representasi dana nasabah di bank yang diwujudkan dalam bentuk token berbasis teknologi blockchain. Melalui sistem yang tengah disiapkan itu, simpanan nasabah akan diubah menjadi token digital yang dapat dipindahkan dengan cepat melalui jaringan blockchain.


Menjaga Simpanan Tetap Berada di Sistem Perbankan

Stablecoin sendiri merupakan aset digital yang nilainya dipatok terhadap dolar Amerika Serikat dan diterbitkan oleh perusahaan kripto di luar sistem perbankan tradisional. Kehadiran regulasi Clarity Act yang saat ini sedang dibahas di Kongres Amerika Serikat berpotensi membuka peluang bagi penerbit stablecoin untuk memberikan imbal hasil kepada para pemegangnya.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Babel Teguhkan Komitmen Merawat Alam Lewat Penanaman Mangrove

Kondisi tersebut dinilai dapat membuat deposito perbankan menjadi kurang menarik, mengingat stablecoin juga menawarkan kemampuan transaksi yang lebih cepat dan berbiaya lebih rendah melalui teknologi blockchain.

Apabila penggunaan stablecoin berkembang secara luas, bank-bank dikhawatirkan menghadapi perpindahan dana simpanan ke dompet kripto. Padahal, dana simpanan merupakan sumber utama yang digunakan perbankan untuk menyalurkan kredit ke berbagai sektor ekonomi.

Karena itu, jaringan deposito bertokenisasi dirancang agar dana masyarakat tetap berada dalam sistem perbankan, sembari menghadirkan berbagai kemampuan yang selama ini identik dengan aset kripto.


Membuka Jalan bagi Pembayaran Masa Depan

Wall Street Journal juga melaporkan bahwa The Clearing House menaruh harapan besar kepada perusahaan-perusahaan multinasional untuk memanfaatkan jaringan deposito bertokenisasi tersebut.

PT TIMAH Perkuat Reputasi Korporasi, Raih Penghargaan Best Corporate Media Impact 2026

Sistem baru itu dipandang dapat menjadi gerbang menuju berbagai layanan keuangan modern, mulai dari pengelolaan kas yang dapat diprogram secara otomatis, manajemen likuiditas secara waktu nyata, hingga pembayaran lintas negara yang lebih efisien.

Chief Executive Officer The Clearing House, David Watson, menyebut langkah tersebut sebagai perubahan besar bagi industri perbankan. Ikuti analisis, edukasi, dan update terbaru dunia kripto melalui DigiCoreTech (Rz)

Bagikan