PANGKALPINANG – Di balik 100 hari awal masa kepemimpinan Wali Kota Pangkalpinang Saparudin, ada peran Wakil Wali Kota Dessy Ayu Trisna yang perlahan namun konsisten menarik perhatian publik. Perempuan yang akrab disapa Cece Dessy ini tampil dengan gaya kepemimpinan yang membumi dan lebih sering hadir di tengah warga dibandingkan di balik meja kerja.
Penilaian Andy Pratama: Kepemimpinan yang Hadir
Andy Pratama, Humas Partai Solidaritas Indonesia Bangka Belitung sekaligus Ketua Ormas Arun Bangka Belitung, menilai gaya kerja Dessy menunjukkan pendekatan kepemimpinan yang relevan dengan kondisi masyarakat.
Menurut Andy, kehadiran Wakil Wali Kota di ruang-ruang keseharian warga membuka ruang aspirasi yang lebih jujur.
“Kehadiran Bu Dessy di tengah masyarakat membuat aspirasi warga tersampaikan apa adanya, tanpa dibatasi suasana formal pemerintahan,” ujarnya.
Ia menilai, interaksi di ruang-ruang sederhana justru menjadi sumber penting bagi pemerintah dalam membaca persoalan kota.
“Dari situ pemerintah bisa melihat masalah secara lebih utuh, bukan hanya dari laporan di atas meja,” kata Andy.
Andy juga menilai pola tersebut memperkuat kolaborasi kepemimpinan di Pangkalpinang. Ketika wali kota menguatkan arah kebijakan, kehadiran wakil wali kota di lapangan memastikan kebijakan tersebut tidak tercerabut dari realitas sosial.

Andy Pratama bersama Wakil Wali Kota Pangkalpinang Dessy Ayu Trisna berbincang santai di sebuah kedai kopi.
Bagi masyarakat Pangkalpinang, Dessy bukanlah wajah baru. Istri dari Muhammad Irwansyah ini telah lama dikenal aktif dalam kegiatan sosial, terutama di bidang pendidikan anak, pemberdayaan keluarga, dan isu-isu sosial kemasyarakatan. Kedekatannya dengan warga terbangun bukan melalui protokoler, melainkan dari interaksi sehari-hari yang sederhana dan apa adanya.
BACA JUGA: Nostalgia di Paulus: Dari Seragam Putih Biru ke Kursi Wakil Wali Kota
Dari Ruang Domestik ke Ruang Publik
Dunia politik sejatinya bukan cita-cita awal Dessy. Setelah menikah pada 2007, ia memilih fokus sebagai ibu rumah tangga sembari mendampingi suami dalam perjalanan karier politik. Namun, justru dari peran itulah kepekaannya terhadap persoalan keluarga, pendidikan, dan lingkungan sosial tumbuh kuat.
Langkah politiknya dimulai pada 2024 saat ia memutuskan maju sebagai anggota DPRD Kota Pangkalpinang dan terpilih. Perjalanan tersebut berlanjut pada Pilkada ulang 2025, ketika ia mendampingi Prof. Saparudin. Keduanya kemudian dilantik pada 15 Oktober 2025 sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pangkalpinang periode 2025–2030.
Lebih Banyak di Lapangan, Lebih Dekat dengan Warga
Dalam 100 hari pertama masa jabatan, Dessy dikenal lebih banyak meninjau langsung aktivitas masyarakat. Ia hadir dalam kegiatan pendidikan, sosial, hingga kemasyarakatan mulai dari festival literasi, penyaluran alat peraga edukatif ke sekolah, penguatan kader muda, hingga inisiatif pemuda anti-narkoba.
Pola kerja ini membuat Dessy kerap ditemui di sekolah, lingkungan permukiman, hingga pertemuan informal warga. Bagi banyak orang, kehadirannya bukan sekadar simbol jabatan, melainkan representasi pemimpin yang mau mendengar tanpa jarak.
Pendekatan tersebut dinilai melengkapi peran wali kota dalam memastikan kebijakan pemerintah benar-benar menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Salah satunya terlihat dari berbagai program pelayanan publik yang dijalankan di awal pemerintahan.
BACA JUGA: TPS3R dan Mimpi Menuntaskan Masalah Sampah Pangkalpinang
Kartini Pangkalpinang Masa Kini
Sebagai wakil wali kota perempuan, Dessy Ayu Trisna membawa warna tersendiri dalam pemerintahan Pangkalpinang. Konsistensinya turun ke lapangan, menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, serta menjaga kedekatan emosional dengan warga menjadi fondasi awal pemerintahan lima tahun ke depan.
Dalam 100 hari pertama masa jabatan, kolaborasi antara Prof. Saparudin dan Dessy Ayu Trisna mulai membentuk pola kepemimpinan yang saling melengkapi: satu menjaga arah kebijakan, yang lain memastikan denyut masyarakat tetap terdengar.
Dari sanalah sosok Cece Dessy kerap disebut sebagai Kartini Pangkalpinang masa kini hadir bukan hanya sebagai pejabat, tetapi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang ia layani. (Rz)






