Babel Hadapi Krisis Mangrove: Ancaman Abrasi dan Banjir Semakin Dekat

Kerusakan ekosistem mangrove akibat aktivitas penambangan ilegal di kawasan pesisir. Lubang-lubang bekas tambang merusak struktur tanah dan memutus fungsi ekologis mangrove sebagai penahan abrasi, penyimpan karbon, dan habitat biota pesisir.

Bangka Belitung — Kerusakan ekosistem mangrove di berbagai wilayah Indonesia kembali menjadi perhatian setelah serangkaian bencana banjir bandang menghantam Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa pekan terakhir. Para peneliti menilai bahwa degradasi ekosistem penyangga, termasuk mangrove, turut memperbesar risiko bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), kondisi mangrove juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2021 yang diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Babel memiliki sekitar 24.573 hektare kawasan mangrove. Namun, 5.433 hektare di antaranya tercatat dalam kondisi terdegradasi atau rusak, terutama akibat aktivitas penambangan timah, konversi lahan pesisir, dan tekanan pembangunan.

“Mangrove menyimpan karbon hingga empat kali lebih banyak dibandingkan hutan daratan. Ketika mangrove rusak, karbon yang tersimpan dalam tanah bisa lepas kembali ke atmosfer dan memperburuk krisis iklim,” ujar Yordi

PENULIS: Yordi Aprianto – Mahasiswa Konservasi Sumber Daya Alam Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung &
Wakil Ketua Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung / The Tanggokers.


Kerusakan Mangrove dan Kaitannya dengan Bencana Nasional

Gelombang banjir bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar telah menewaskan warga, merusak ribuan rumah, dan memutus jalur transportasi. Para ahli menilai bahwa selain faktor cuaca ekstrem, kerusakan ekosistem hulu dan hilir memperbesar dampak bencana.

“Ada hubungan langsung antara rusaknya ekosistem hulu dengan tekanan pada ekosistem pesisir. Ketika hulu kehilangan tutupan hutan, debit air meningkat. Ketika hilir termasuk mangrove rusak, air tidak tertahan dan dampak banjir menjadi lebih besar,” jelas Yordi.

Kasus Tambang di Hutan Bukit Betung: Tiga Terdakwa, Nama “W” dari Oknum TNI Muncul di Persidangan

Indonesia sebagai negara kepulauan sangat bergantung pada ekosistem mangrove untuk menjaga stabilitas pesisir. Akar tunjang mangrove mampu meredam gelombang, menahan sedimen, dan mengurangi abrasi hingga puluhan persen. Hilangnya fungsi ini membuat kawasan pesisir semakin rentan terhadap banjir rob, kenaikan muka air laut, dan badai.

BACA JUGA: Bangka Belitung dan Bayang-bayang Bencana Sumatra: Ketika Alam Mengirim Peringatan yang Kita Abaikan


Bangka Belitung Menghadapi Ancaman Serius

Di Bangka Belitung, ancaman tersebut sudah terlihat nyata. Sejumlah wilayah pesisir di Belitung Timur, Sungailiat, Mendo Barat, dan Toboali mengalami abrasi tahunan yang menggerus daratan. Beberapa desa dilaporkan kehilangan garis pantai hingga belasan meter dalam lima tahun terakhir.

“Tanggul beton hanya memantulkan gelombang. Mangrove justru menyerap dan mengurangi energinya. Ini yang membuat mangrove jauh lebih efektif sebagai perlindungan alami,” ungkap Yordi, menegaskan mangrove sebagai infrastruktur hijau yang tidak tergantikan.

Kerusakan mangrove juga berdampak langsung pada sektor perikanan lokal. Banyak nelayan mengeluhkan menurunnya hasil tangkapan, karena mangrove merupakan habitat pemijahan berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting.

36 Atraktor Cumi Ditenggelamkan PT TIMAH, Nelayan Buku Limau Sambut Harapan Baru


Bencana di Sumatera, Peringatan untuk Seluruh Daerah

Banjir bandang yang terjadi di tiga provinsi Sumatera dinilai sebagai alarm keras bagi seluruh daerah pesisir, termasuk Babel. Para ahli memperingatkan bahwa tanpa pemulihan mangrove dan pengelolaan ruang pesisir yang ketat, risiko bencana akan meningkat tajam.

Fenomena banjir bandang, abrasi, dan rob ekstrem dapat terjadi lebih sering seiring perubahan iklim. Mangrove memiliki peran strategis sebagai penyangga yang menstabilkan wilayah pesisir dan membantu mengurangi dampak bencana.

BACA JUGA: Melati, S.H. Kritik Lemahnya Pengawasan Hutan: “Penegakan Hukum Baru Bergerak Setelah Bencana Besar!”


Seruan Aksi Pemulihan dan Pengawasan

Yordi mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat rehabilitasi mangrove di kawasan yang rusak. Ia juga menekankan pentingnya pengawasan aktivitas penambangan di area pesisir serta pelibatan masyarakat dalam program ekonomi berbasis mangrove.

“Konservasi mangrove bukan hanya soal menjaga pohon, tetapi menjaga keselamatan masyarakat pesisir dan masa depan iklim Indonesia,” tegasnya.

Peran Nyata PT TIMAH Tbk dalam Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Wilayah Operasional

Ia berharap kejadian banjir bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar menjadi pengingat kuat bahwa kerusakan ekosistem bukan sekadar masalah lingkungan, tetapi ancaman nyata terhadap kehidupan manusia.

Bagikan