LG Tak Main-Main, Inovasi Blockchain Terbarunya Digadang-gadang Bakal Mengubah Industri Iklan Digital Selamanya

PANGKALPINANG – LG Electronics tengah bersiap membawa perubahan besar dalam industri periklanan digital global dengan mengembangkan jaringan blockchain khusus untuk transaksi iklan. Langkah ini dilakukan melalui laboratorium riset blockchain internal perusahaan yang bekerja sama dengan Arbitrum, salah satu platform layer-2 terkemuka.

Pengembangan tersebut telah memasuki tahap uji coba bersama sebuah agensi periklanan asal Jepang. Apabila hasil pilot project dinilai memuaskan, peluncuran komersial secara lebih luas akan dipertimbangkan pada akhir tahun ini.


Menata Transparansi dalam Dunia Periklanan Digital

Industri periklanan digital saat ini masih menghadapi tantangan dalam hal transparansi dan efisiensi pengelolaan data serta transaksi. LG Electronics memandang teknologi blockchain sebagai salah satu jalan untuk menghadirkan solusi melalui penyediaan basis data bersama bagi pengiklan dan penerbit iklan.

Dengan sistem tersebut, setiap interaksi audiens terhadap iklan akan tercatat secara otomatis dan transparan di dalam ledger bersama. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi proses rekonsiliasi manual yang selama ini memperlambat sekaligus memperumit transaksi iklan digital.

Berkat Pendampingan PT TIMAH, Pelaku UMKM Ini Kini Mampu Produksi Lebih Banyak dan Jual Lebih Luas

Peluang yang dibidik pun bernilai sangat besar. Berdasarkan proyeksi Dentsu, belanja iklan digital global diperkirakan mencapai 740 miliar dolar Amerika Serikat pada 2026 atau sekitar 73 persen dari total pasar media global yang diproyeksikan menembus 1 triliun dolar Amerika Serikat untuk pertama kalinya.

Samuel Byungsun Park, kepala departemen riset blockchain LG, menegaskan bahwa perusahaan masih mengevaluasi apakah pendekatan tersebut benar-benar mampu memberikan nilai tambah bagi pengiklan, penerbit, maupun audiens. Sebelumnya, LG juga telah meluncurkan dompet digital Wallypto dan mengajukan paten televisi untuk perdagangan NFT.


Kecenderungan Baru di Kalangan Korporasi Besar

Perusahaan-perusahaan besar kini mulai menunjukkan kecenderungan membangun jaringan blockchain sendiri dibandingkan hanya memanfaatkan blockchain publik. LG Electronics bergabung dengan sejumlah perusahaan lain seperti Stripe yang mengembangkan jaringan pembayaran Tempo, Robinhood yang bekerja sama dengan Arbitrum membangun jaringan tokenisasi ekuitas, serta Circle yang mengembangkan jaringan Arc.

Langkah tersebut mencerminkan meningkatnya kesadaran korporasi akan pentingnya mengendalikan data dan transaksi secara mandiri. Namun demikian, perkembangan proyek enterprise tersebut belum sepenuhnya tercermin pada performa token Arbitrum (ARB) di pasar.

Pendampingan PT TIMAH Dorong Pokdakan Tuah Bersatu Sukses Kembangkan Budidaya Kakap Putih

Pada hari Kamis, ARB diperdagangkan di kisaran 0,083 dolar Amerika Serikat, naik 5 persen dalam 24 jam terakhir, tetapi masih berada sekitar 80 persen di bawah posisinya dibandingkan tahun sebelumnya.

Steven Goldfeder, salah satu pendiri Arbitrum, menyatakan bahwa model blockchain privat dapat mengotomatisasi proses penjualan iklan tanpa campur tangan manual. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa tidak semua perusahaan memerlukan blockchain sendiri dan keputusan tersebut perlu didasarkan pada kebutuhan serta hasil uji coba yang dilakukan.


Menanti Hasil Uji Sebelum Melangkah Lebih Jauh

Keputusan LG membangun blockchain sendiri menjadi penanda berkembangnya adopsi teknologi Web3 di kalangan perusahaan besar. Jika pilot project tersebut mampu membuktikan keunggulan dari sisi biaya dan kecepatan, peluang semakin banyak perusahaan mengikuti langkah serupa pun terbuka lebar.

Model kepemilikan blockchain dinilai memberikan keleluasaan bagi perusahaan untuk mengendalikan data, keamanan, dan inovasi sesuai kebutuhan bisnis. Meski demikian, tantangan seperti biaya pengembangan dan kebutuhan sumber daya manusia yang memadai tetap menjadi perhatian.

PT TIMAH Tanam Pohon dan Bersihkan Pantai Asmara Dewi, Dukung Pelestarian Lingkungan di Karimun

Di sisi lain, adopsi blockchain oleh korporasi besar juga dinilai berpotensi mendorong perkembangan ekosistem aset kripto secara keseluruhan, termasuk Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Ripple (XRP), dan aset digital lainnya.

Steven Goldfeder kembali menegaskan bahwa keputusan membangun blockchain harus berlandaskan kebutuhan nyata, bukan sekadar mengikuti tren. Sementara itu, LG masih menunggu hasil evaluasi pilot project sebelum menentukan langkah final terkait peluncuran komersial. Jika berjalan sesuai harapan, inisiatif tersebut berpotensi menjadi pemicu perubahan besar dalam industri periklanan digital global. (Rz)

Bagikan