Ia turut menerangkan bahwa air sumur yang sesekali tampak sedikit berminyak bukanlah keadaan yang baru muncul setelah SPPG beroperasi.
“Kalau musim kemarau ini memang kelihatannya air itu ada sedikit berminyak dan itu dari dulu, sebelum SPPG milik Pak Bambang dibangun,” katanya.
Ketua RT Menyampaikan Penilaian
Keterangan serupa juga disampaikan Ketua RT 005/02, Liberti Manurung. Ia menyebut SPPG milik Bambang telah berdiri kurang lebih delapan bulan.
Selama masa operasional tersebut, Liberti menilai pihak SPPG cukup memberikan perhatian terhadap kebersihan serta berupaya mencegah timbulnya pencemaran lingkungan.
“Pak Bambang selalu mengedepankan kebersihan, selalu menghindari pencemaran lingkungan. Menurut saya, SPPG ini sudah sesuai SOP dari BGN Pusat,” ujar Liberti.
Menurutnya, sistem IPAL yang diterapkan di SPPG juga telah mengikuti arahan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pangkalpinang.
“Salah satu IPAL yang mereka gunakan sudah sesuai standarisasi dari arahan DLH Kota Pangkalpinang, dan karyawannya sudah kompeten,” jelasnya.
Liberti turut menyebut bahwa kebutuhan air untuk sejumlah aktivitas di SPPG menggunakan air tanah dengan tingkat pH sekitar 6 hingga 7. Sementara untuk kebutuhan memasak, air yang digunakan berasal dari air galon.



