PANGKALPINANG – Kelangkaan gas LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram masih terjadi di Kota Pangkalpinang dan sejumlah wilayah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini dipicu oleh gangguan serius pada jalur distribusi laut akibat cuaca buruk.
Distribusi Laut Terkendala Cuaca
Hambatan utama terjadi pada pasokan LPG yang berasal dari jalur laut, khususnya distribusi dari Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Kelapa. Pasokan dari SPBE ini sangat bergantung pada pengiriman dari Palembang yang harus melintasi perairan dengan kondisi cuaca tidak menentu.
Sementara itu, distribusi dari SPBE Pagarawan relatif masih berjalan normal dan menjadi salah satu penopang pasokan LPG di tengah keterbatasan distribusi dari SPBE Kelapa.
Larangan Berlayar dan Waktu Tempuh Membengkak
Dalam beberapa kesempatan, terdapat imbauan agar kapal pengangkut LPG tidak berlayar karena gelombang tinggi dan cuaca ekstrem. Ketika pelayaran tetap dilakukan, waktu tempuh yang biasanya sekitar 10 jam menuju Pelabuhan Mentok membengkak hingga 18 jam, bahkan tidak jarang kapal gagal sandar akibat kondisi gelombang dan ketinggian air laut.
Situasi ini berdampak langsung pada keterlambatan bongkar muat LPG dan mengganggu kelancaran distribusi ke darat.
Pangkalan Kosong Akibat Suplai Terhambat
Terhambatnya pasokan membuat agen LPG tidak dapat menyalurkan gas secara optimal ke pangkalan. Akibatnya, sejumlah pangkalan mengalami kekosongan stok karena sepenuhnya bergantung pada pasokan dari agen.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, penyaluran LPG dilakukan dengan menarik pasokan dari dua SPBE, yakni SPBE PT CBM dan SPBE PT Sinarindo. Namun, SPBE Sinarindo harus melayani distribusi ke Pangkalpinang, Bangka Induk, dan Bangka Tengah sekaligus, sehingga bebannya meningkat signifikan.

Ilustrasi antrean warga membeli LPG 3 kilogram di tengah keterbatasan pasokan.
Jam Operasional Terbatas, Alokasi Tidak Maksimal
Dalam hampir tiga pekan terakhir, aktivitas distribusi LPG tidak dapat berjalan penuh. Setiap pekan, hanya sekitar tiga hari penyaluran bisa dilakukan dengan alokasi penuh, sementara tiga hari lainnya hanya mampu menyalurkan setengah dari alokasi normal. Bahkan, pada hari tertentu distribusi terpaksa dihentikan sementara.
Untuk alokasi hari Kamis, penyaluran baru dapat dilakukan pada hari Minggu. Hingga sore hari, hanya dua unit truk yang berhasil disalurkan, dengan tambahan armada diperkirakan baru tiba pada malam hari.
Distribusi Mingguan Turun Signifikan
Dalam kondisi normal, distribusi LPG di Pangkalpinang mencapai sekitar 35 hingga 36 truk per pekan, dengan masing-masing truk membawa sekitar 560 tabung LPG untuk disalurkan ke 115 pangkalan.
Namun, pada pekan ini jumlah distribusi turun menjadi sekitar 25 truk, meskipun jumlah pangkalan yang dilayani tetap sama.
Masyarakat Diminta Tidak Panic Buying
Meski distribusi mengalami gangguan, kondisi pasokan LPG 3 kilogram di Pangkalpinang masih dinilai dapat dikendalikan selama tidak terjadi pembelian berlebihan oleh masyarakat. Stabilitas pasokan sangat bergantung pada kelancaran distribusi serta kondisi cuaca dalam beberapa hari ke depan.
“Susah sekali cari gas sekarang. Kalau pun ada, harganya sampai Rp35.000 per tabung. Padahal gas itu kebutuhan sehari-hari untuk masak. Kami harap pasokan bisa segera normal,” ujar seorang warga Pangkalpinang.
Perbaikan cuaca diharapkan dapat segera memulihkan jalur distribusi laut agar penyaluran LPG kembali normal dan kebutuhan rumah tangga serta usaha mikro dapat terpenuhi secara optimal. (Rz)






