Pemkot Pangkalpinang, kata Saparudin, tidak dapat menghadapi ancaman karhutla sendirian. Dukungan kepolisian, TNI, perusahaan, dan berbagai pihak lainnya diperlukan untuk memperkuat kesiapsiagaan di lapangan.
Meski wilayah Pangkalpinang relatif mudah dijangkau dengan waktu tempuh antarkawasan sekitar 15 hingga 20 menit menggunakan kendaraan, persoalan dapat menjadi lebih kompleks apabila kebakaran muncul secara bersamaan di sejumlah titik.
“Kalau terjadinya serentak di beberapa titik, itu juga menjadi kewalahan,” katanya.
Sarana Terbatas, Intensitas Penanganan Tinggi
Selain ancaman kebakaran yang dapat muncul di beberapa lokasi sekaligus, pemerintah kota juga menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana penanganan kebakaran.
Saparudin mengungkapkan sejumlah kendaraan operasional bahkan sempat mengalami kerusakan karena tingginya intensitas penggunaan saat menangani kebakaran.
“Kemarin juga sempat rusak karena terlalu tinggi intensitas kerjanya. Kita segera perbaiki. Terima kasih kepada teman-teman dari instansi lain yang juga mendukung dengan fasilitas dan peralatan sarana prasarana pendukung,” ujarnya.
Dari sisi personel, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pangkalpinang memiliki sekitar 90 personel. Lebih dari separuh jumlah tersebut bertugas langsung di lapangan.
Kekuatan personel tersebut menjadi bagian penting dalam kesiapsiagaan pemerintah menghadapi potensi kebakaran, terutama saat kondisi cuaca panas masih berlangsung.



