Bappeda Matangkan Desa Dendang Learning Center, Wujud Akselerasi Prioritas Gubernur Babel

Akselerasi Prioritas Gubernur Babel, Bappeda Matangkan Desa Dendang Learning Center Lahan Pascatambang. (Foto: doc. Humas Diskominfo Babel)
Akselerasi Prioritas Gubernur Babel, Bappeda Matangkan Desa Dendang Learning Center Lahan Pascatambang. (Foto: doc. Humas Diskominfo Babel)

Pangkalpinang, lawangpos.com – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus menguatkan langkah dalam mewujudkan pemulihan ekosistem sekaligus membangun kemandirian ekonomi berkelanjutan, sejalan dengan Program Prioritas Gubernur Hidayat Arsani.

Melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, pemerintah daerah tengah mematangkan strategi menjadikan Desa Dendang, Kabupaten Belitung Timur, sebagai pusat pembelajaran nasional bagi transformasi lahan pascatambang.

Program ini merupakan hasil kolaborasi internasional bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Federal Institute for Geosciences and Natural Resources (BGR) Jerman dalam kerangka kerja sama Mine Reclamation and Environmental Protection.

Langkah Awal melalui Penilaian Terpadu

Sebagai bagian dari tahapan teknis, Tim Litbang Bappeda yang dipimpin Kepala Bidang Litbang, Eko Sentosa, turut mendampingi Bappenas dan BGR dalam melakukan penilaian awal di Kabupaten Belitung Timur.

Dari Dapur ke Edukasi! TP PKK Diajarkan B2SA dan Olahan Pangan Lokal

Kegiatan ini bertujuan memetakan kondisi biofisik, sosial, dan ekonomi secara menyeluruh sebelum proyek dijalankan secara penuh.

Kepala Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dr. Joko Triadhi, menegaskan bahwa pemerintah provinsi berperan sebagai penanggung jawab di tingkat daerah sekaligus fasilitator dalam pelaksanaan program.

“Kami menjalankan mandat Gubernur untuk mengawal kegiatan ini secara penuh. Fokus kami adalah menjadi jembatan bagi seluruh pemangku kepentingan, mengingat langkah ini beririsan langsung dengan Program Prioritas Gubernur terkait reklamasi tambang berkelanjutan,” tutur Joko saat menerima kunjungan tim, Jumat (10/04/2026).

Berpijak pada Inovasi Masyarakat

Pelaksanaan program tidak dimulai dari awal, melainkan bertumpu pada inovasi yang telah berkembang di masyarakat, yakni sawah apung milik Kelompok Pembudi Daya Ikan Aik Kik Apau di kolong bekas tambang Desa Dendang.

Langkah Tegas Gubernur Hidayat Arsani dalam Penataan Organisasi Diapresiasi Sekjen ABPEDNAS

Inisiatif swadaya tersebut menjadi dasar penting dalam pengembangan program, sekaligus membuktikan bahwa lahan pascatambang memiliki potensi ekonomi produktif jika dikelola dengan pendekatan inovatif dan teknologi yang tepat.

Penetapan Desa Dendang sebagai lokasi kerja sama telah melalui proses seleksi berdasarkan berbagai kriteria dan survei awal, serta disepakati dalam kegiatan perencanaan yang berlangsung pada Februari 2026 di Jakarta.

Akselerasi Prioritas Gubernur Babel, Bappeda Matangkan Desa Dendang Learning Center Lahan Pascatambang. (Foto: doc. Humas Diskominfo Babel)

Akselerasi Prioritas Gubernur Babel, Bappeda Matangkan Desa Dendang Learning Center Lahan Pascatambang. (Foto: doc. Humas Diskominfo Babel)

Model Regional dan Ekonomi Berkelanjutan

Meski berlokasi di Kabupaten Belitung Timur, program ini dirancang dalam skala regional, dengan Pemerintah Provinsi terus menjalin koordinasi bersama pemerintah kabupaten setempat guna memastikan dukungan pelaksanaan di lapangan.

Desa Dendang diproyeksikan menjadi model percontohan yang kelak dapat menjadi rujukan bagi wilayah lain di Bangka Belitung.

SIGORO Jadi Terobosan! Kolaborasi Program Indonesia Asri Kian Kuat

Secara teknis, program ini menitikberatkan pada model yang aplikatif dan dapat direplikasi secara luas, guna mendukung ekonomi sirkular sekaligus memperkuat program unggulan daerah dalam reklamasi pascatambang serta pengembangan desa wisata.

Pemulihan Bertahap Berbasis Potensi Lokal

Joko menekankan bahwa pemulihan lahan pascatambang merupakan proses bertahap yang membutuhkan keselarasan antara potensi wilayah dan aspirasi masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa berbagai upaya sebelumnya kerap berhenti pada tahap proyek, sehingga keberlanjutan menjadi kunci utama dalam pelaksanaan program ini.

“Strategi yang kami usung bukan sekadar aktivitas menanam secara fisik. Kami berupaya memastikan lahan pascatambang kembali menjadi ekosistem produktif yang tidak hanya lestari secara ekologis, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” terangnya. (Rz)

Bagikan