Batam – Harapan untuk kembali membuka keran ekspor Benih Bening Lobster (BBL) kembali bergema. Anggota Komisi IV DPR RI Melati mendorong agar pemerintah melakukan kajian yang menyeluruh terhadap kebijakan tersebut, sehingga potensi ekonomi yang besar dapat berjalan seiring dengan meningkatnya kesejahteraan nelayan penangkap benih di kawasan pesisir.
“Kita maunya mendorong bahwa benih bening lobster yang dulunya pernah diekspor, ini bisa kita dorong lagi untuk bisa dibuka ekspornya. Tapi ini kan masih menjadi satu kajian, apakah itu mungkin dibuka lagi ataukah memang sesuai dengan aturan yang ada saat ini,” papar Melati dalam Kunjungan Kerja Reses Komisi IV DPR RI di Balai Perikanan Budidaya Laut Batam, Kepulauan Riau, Kamis (23/7/2026).
Ikhtiar Menjaga Nilai dan Aturan
Politisi Fraksi Partai Gerindra itu menjelaskan bahwa peluang ekspor tetap harus berpijak pada ketentuan yang berlaku. Ia menyoroti Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KKP) Nomor 5 Tahun 2026 yang mewajibkan setiap pelaku usaha menjalankan tahapan budidaya sebelum hasilnya dapat dikirim ke luar negeri.
“Untuk budidaya ini memang menjadi satu keharusan ketika satu perusahaan atau usaha untuk mengekspor. Sesuai Permen KKP Nomor 5 Tahun 2026, untuk mengekspor ini harus di angka 50 gram ke atas lobsternya, atau bisa untuk dikonsumsi lintas daerah,” urainya.
Harapan Bermula dari Pesisir
Dalam peninjauan di Balai Perikanan Budidaya Laut Batam, rombongan Komisi IV DPR RI mengikuti perjalanan budidaya lobster dari hulu hingga hilir. Mulai dari benih yang ditangkap nelayan di alam, kemudian dipelihara hingga mencapai bobot sekitar 200 gram dan siap memberi nilai tambah yang lebih tinggi.
Bagi Melati, budidaya lobster bukan sekadar menghadirkan peluang ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat ketahanan pangan nasional. Namun di balik itu, ia mengingatkan agar kebijakan yang disusun tetap berpihak kepada nelayan kecil sebagai mata rantai pertama dalam usaha perikanan.
“Selain berbicara tentang ketahanan pangan, kita juga menyoroti bagaimana proses dari benih bening lobster ditangkap sehingga menjadi lobster yang siap disantap. Ke depan, fokus kita adalah bagaimana bisa mendorong kesejahteraan nelayan yang berprofesi sebagai penangkap benih bening lobster tersebut,” pungkas Melati. (Rz)





