Oleh: M. Irfan Patin
Bangka Belitung – BABEL selama ini dikenal sebagai daerah penghasil timah. Namun sejarah kerap mempersempit cara kita memandang masa depan. Di balik pasir timah dan luka ekologis yang belum sepenuhnya pulih, wilayah ini menyimpan potensi strategis yang jauh lebih besar: thorium, sumber energi masa depan yang berpotensi mengubah posisi Bangka Belitung—bahkan Indonesia—dalam peta energi global.
Thorium bukan sekadar wacana. Ia hadir nyata, terikat dalam mineral monasit yang selama puluhan tahun dianggap limbah penambangan timah. Kini, potensi tersebut tidak lagi hanya menjadi bahan diskusi akademik. Negara secara resmi telah mengakuinya.
Melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 314.K/TL/01/MEM.L/2024 tentang Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), pemerintah mengungkap bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya terukur thorium sekitar 4.729 ton dan uranium (U₃O₈) sekitar 5.234 ton, berdasarkan laporan teknis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dari jumlah tersebut, Kepulauan Bangka Belitung tercatat sebagai wilayah dengan potensi thorium terbesar, sekaligus menyimpan sekitar 2.840 ton uranium.
Artinya, masa depan energi Indonesia secara harfiah tersimpan di tanah Bangka Belitung.
Thorium dan Kesalahpahaman Publik
Sayangnya, potensi strategis ini masih terhambat oleh satu persoalan mendasar: ketakutan publik terhadap kata “nuklir”.
Di benak banyak orang, nuklir identik dengan bom atom, bencana, dan kehancuran. Padahal, menyamakan nuklir berbasis thorium dengan senjata uranium adalah kekeliruan besar baik secara ilmiah maupun teknologi.
Thorium tidak dapat digunakan sebagai bahan bom nuklir. Sistem reaktornya dirancang berbeda, dengan tingkat keselamatan pasif yang tinggi, risiko kecelakaan yang jauh lebih rendah, serta volume dan umur limbah radioaktif yang lebih kecil dibandingkan reaktor konvensional berbasis uranium. Inilah sebabnya teknologi reaktor thorium, termasuk molten salt reactor dan small modular reactor, menjadi fokus riset di berbagai negara sebagai bagian dari transisi energi rendah emisi.
Masalah sesungguhnya bukan pada teknologinya, melainkan pada minimnya edukasi publik dan keberanian politik untuk membuka diskursus secara jujur dan berbasis sains.

PLTN Resmi Masuk Agenda Nasional
RUKN terbaru juga menegaskan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menjadi bagian dari strategi nasional untuk diversifikasi energi dan penguatan pasokan pembangkit baseload. Pemerintah menargetkan PLTN pertama di Indonesia mulai beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date/COD) pada 2032.
Pembangunan dan pengoperasian PLTN diwajibkan memenuhi persyaratan keselamatan (safety), keamanan (security), dan pengamanan nuklir (safeguards), termasuk pemilihan lokasi yang aman dari bencana geologi, tidak padat penduduk, serta bukan kawasan lumbung pangan. Selain itu, negara mensyaratkan jaminan pasokan bahan bakar nuklir nasional, pengelolaan limbah radioaktif, serta persetujuan badan pengawas tenaga nuklir.
Dengan kata lain, pengembangan PLTN bukan proyek serampangan, melainkan kebijakan energi jangka panjang yang dirancang secara bertahap dan ketat.
BACA JUGA: Mangrove Sebagai Benteng Alami Penjaga Keberlanjutan Pesisir Indonesia
Bangka Belitung dalam Lokasi Prioritas PLTN
Sejalan dengan RUKN, Dewan Energi Nasional (DEN) mengungkap bahwa dari 29 lokasi potensial PLTN di Indonesia, terdapat empat wilayah prioritas, yakni Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Sulawesi Tenggara, dan Halmahera (Maluku Utara).
DEN memperkirakan total kapasitas PLTN nasional di 29 lokasi tersebut dapat mencapai 45–54 gigawatt (GW). Dalam peta jalan Revisi Kebijakan Energi Nasional (KEN), PLTN pertama berkapasitas 250 MW ditargetkan terbangun pada 2031–2035, meningkat menjadi 8 GW pada 2036–2040, 21 GW pada 2041–2050, dan mencapai 45–54 GW pada 2060.
Data ini menunjukkan bahwa nuklir termasuk peluang pemanfaatan thorium bukan lagi isu masa depan yang jauh, melainkan bagian nyata dari perencanaan energi nasional.
Dampak Kehadiran PLTN Thorium di Bangka Belitung
Dampaknya tidak kecil. Bahkan berpotensi transformatif.
Pertama, energi listrik yang stabil, murah, dan rendah emisi akan tersedia dalam skala besar—syarat mutlak bagi industrialisasi modern. Tanpa energi murah, tidak ada manufaktur maju, pusat data, atau lompatan ekonomi.
Kedua, Bangka Belitung berpeluang keluar dari kutukan ekonomi ekstraktif. Hilirisasi timah dan monasit dapat berkembang menjadi industri berteknologi tinggi, bukan sekadar penggalian dan ekspor bahan mentah.
Ketiga, investasi akan masuk. Industri manufaktur, teknologi, dan data center membutuhkan pasokan energi besar dan andal. Dalam konteks ini, Bangka Belitung dapat tumbuh sebagai hub energi strategis kawasan.
Keempat, efek berantai ekonomi akan terjadi: PDRB meningkat, lapangan kerja tercipta, dan ketergantungan pada tambang ilegal perlahan dapat diputus.
Energi murah bukan sekadar soal listrik. Ia adalah fondasi peradaban modern.
BACA JUGA: PANEN BUAYA DAN PRIORITAS YANG TERBALIK
Takut atau Visioner
Jika Bangka Belitung terus menolak perubahan atas dasar ketakutan yang tidak berdasar, maka daerah ini berisiko terjebak dalam lingkaran lama: ekonomi rendah, kerusakan lingkungan, dan konflik sosial akibat tambang ilegal.
Yang seharusnya ditolak adalah:
– Penambangan ilegal
– Eksploitasi tanpa kendali
– Kerusakan lingkungan lintas generasi
Yang seharusnya diperjuangkan adalah:
– Energi bersih dan berkelanjutan
– Industrialisasi yang adil
– Kesejahteraan masyarakat jangka panjang
Penolakan tanpa pemahaman bukan sikap kritis. Itu adalah cara paling efektif untuk kehilangan masa depan.

Sejarah Tidak Menunggu Mereka yang Ragu
Setiap lompatan peradaban selalu diawali oleh keberanian mengambil risiko yang terukur. Bangka Belitung hari ini berada di persimpangan sejarah: tetap miskin di atas kekayaan mineralnya sendiri, atau berani menjadi bagian dari fondasi energi masa depan Indonesia.
Thorium memberi peluang itu.
Bukan untuk mengulang kesalahan lama, tetapi untuk menebusnya dengan arah baru.
Bangka Belitung bisa menjadi lumbung energi masa depan nasional.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal data karena data sudah ada melainkan apakah kita siap mengambil kendali, atau kembali mundur karena takut.













