BANGKA BELITUNG — Rawa gambut air tawar merupakan salah satu ekosistem penting di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang berfungsi sebagai pengatur tata air alami, penyimpan karbon, serta habitat utama keanekaragaman hayati perairan darat. Ekosistem ini tersebar di seluruh kabupaten dan kota, terutama pada kawasan rawa, hulu sungai, dan zona transisi darat–perairan.
Berdasarkan laporan riset terbuka berbasis Measurement, Reporting, and Verification (MRV) ekologi yang disusun Lawang Pos bekerja sama dengan Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung, indikasi kerusakan rawa gambut air tawar terdeteksi di seluruh wilayah administratif Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2025.
Temuan Riset MRV Rawa Gambut Air Tawar 2025
Hasil pengukuran spasial menunjukkan bahwa luas total rawa gambut air tawar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tercatat sekitar 29.561,6 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 6.581 hektare teridentifikasi mengalami indikasi kerusakan ekologis, atau setara dengan sekitar 22,3 persen dari total luas rawa gambut air tawar.
Indikasi kerusakan ini mencerminkan adanya gangguan terhadap kondisi ekologis fungsional rawa gambut air tawar dan tidak dimaksudkan sebagai penetapan status hukum kawasan.
Grafik: Luas Rawa Gambut Air Tawar & Luas Terindikasi Rusak (ha)
Keterangan Grafik
Grafik ini menampilkan perbandingan luas rawa gambut air tawar yang terindikasi rusak dan luas rawa gambut air tawar total di setiap kabupaten dan kota di Provinsi Bangka Belitung pada tahun 2025. Wilayah disusun dari tingkat kerusakan terendah hingga tertinggi untuk memudahkan pembacaan tekanan ekologis antarwilayah. Grafik ini tidak dimaksudkan untuk membaca perubahan waktu, melainkan untuk melihat perbedaan kondisi antarwilayah dalam periode pengamatan yang sama.
Seluruh data disajikan dalam satuan hektar agar pembaca dapat melihat besaran dampak ekologis secara nyata di lapangan, bukan sekadar perbandingan persentase.
Pendekatan Penginderaan Jauh dan Batasan Analisis
Pengukuran dilakukan menggunakan citra satelit Sentinel-2 resolusi 10 meter yang diolah dengan metode komposit median tahunan untuk meminimalkan pengaruh musiman. Analisis vegetasi dilakukan menggunakan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) yang dikombinasikan dengan data air permukaan global untuk membaca perubahan tutupan vegetasi dan pola genangan air tawar.
Indikasi kerusakan ditetapkan apabila teridentifikasi satu atau lebih kondisi berikut, yakni penurunan tutupan vegetasi alami, perubahan pola genangan air tawar yang tidak stabil secara musiman, serta indikasi gangguan hidrologi akibat aktivitas pemanfaatan lahan.
Pendekatan ini bersifat indikatif dan diposisikan sebagai sistem peringatan dini, bukan sebagai penetapan akhir kondisi kerusakan.
Faktor Tekanan Ekologis
Laporan riset mencatat bahwa indikasi kerusakan rawa gambut air tawar berkaitan dengan berbagai tekanan pemanfaatan wilayah, antara lain perubahan penggunaan lahan, fragmentasi bentang alam, aktivitas pertambangan, serta gangguan sistem hidrologi akibat drainase dan pembangunan infrastruktur.
Tekanan ekologis pada rawa gambut air tawar tidak selalu tampak sebagai kerusakan fisik yang kasat mata. Pada banyak lokasi, degradasi terjadi secara perlahan melalui perubahan kondisi air, penurunan kualitas habitat, dan melemahnya fungsi ekologis meskipun vegetasi masih tampak ada.
245,64 Ha
Terindikasi Rusak:
57,55 Ha
3.923,27 Ha
Terindikasi Rusak:
563,48 Ha
4.174,11 Ha
Terindikasi Rusak:
836,85 Ha
4.665,90 Ha
Terindikasi Rusak:
1.087,45 Ha
4.721,76 Ha
Terindikasi Rusak:
1.117,16 Ha
6.648,33 Ha
Terindikasi Rusak:
1.415,01 Ha
5.182,59 Ha
Terindikasi Rusak:
1.503,57 Ha
Keterangan Data
Setiap kartu data menampilkan ringkasan kondisi rawa gambut air tawar pada masing-masing wilayah administratif.
Luas Rawa Gambut Air Tawar
Menunjukkan estimasi total luas ekosistem rawa gambut air tawar yang teridentifikasi berdasarkan analisis penginderaan jauh resolusi menengah.
Terindikasi Rusak (Hektar)
Menggambarkan luasan rawa gambut air tawar yang terdeteksi mengalami perubahan tutupan vegetasi dan/atau gangguan hidrologi sesuai kriteria pengukuran spasial.
Persentase Kerusakan (%)
Digunakan sebagai indikator visual untuk membantu pembacaan tingkat tekanan ekologis relatif antarwilayah, bukan sebagai dasar penetapan status hukum kawasan.
Bar indikator berfungsi sebagai alat bantu visual, sementara nilai luas dalam hektar menjadi rujukan utama dalam membaca dampak ekologis yang terjadi.
Sebaran Wilayah dan Sistem Peringatan Dini
Secara spasial, tingkat indikasi kerusakan rawa gambut air tawar bervariasi antarwilayah. Beberapa kabupaten mencatat persentase indikasi kerusakan lebih tinggi, sementara wilayah lain menunjukkan luasan terdampak yang besar secara absolut.
Seluruh temuan dalam laporan ini diposisikan sebagai indikasi awal untuk mengidentifikasi area prioritas evaluasi lanjutan. Verifikasi lapangan diperlukan untuk memastikan jenis dan tingkat tekanan ekologis yang terjadi serta mendukung pengelolaan rawa gambut air tawar berbasis bukti di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (*/Rz)













