Oleh:
Malik Abdul Aziz ( Alex )
Ketua Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung/The Tanggokers
Peran Penting Mangrove bagi Ekosistem dan Pesisir Indonesia
Mangrove atau bakau adalah ekosistem penting yang terdapat di area intertidal atau pasang surut pada pantai, yang terlindungi dari gelombang besar dan muara sungai. Keberadaan tanaman ini sangat krusial, terutama untuk negara kepulauan seperti Indonesia yang memiliki pantai yang panjang. Indonesia juga memiliki peranan besar di tingkat global, karena memiliki hutan mangrove terluas di dunia, menjadikannya sumber daya alam yang sangat berharga.
Ekosistem mangrove terdiri dari pohon dan semak yang memiliki kemampuan unik untuk beradaptasi dengan lingkungan yang ekstrem, baik air asin maupun payau. Tanaman ini memiliki cara untuk melindungi diri, misalnya dengan memiliki sistem akar yang kuat dan unik (seperti akar tunjang, lutut, atau akar napas) yang membantu mereka bertahan di tanah lumpur yang tidak stabil serta untuk menyerap oksigen. Dengan kemampuan adaptasi ini, mangrove dapat tumbuh dengan baik di area yang tidak bisa dihuni oleh tanaman darat biasa.
Ancaman Kerusakan, Perubahan Iklim, dan Dampaknya terhadap Kehidupan Pesisir
Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Namun posisi geografis yang strategis itu juga membuat pesisir Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim: kenaikan muka air laut, abrasi, peningkatan frekuensi badai, hingga penurunan kualitas perikanan. Di tengah kompleksitas persoalan tersebut, ekosistem mangrove sesungguhnya menjadi bagian penting yang sering tidak diperhatikan dalam perencanaan pembangunan di daerah pesisir.
Secara ilmiah, mangrove dapat dianggap sebagai “struktur hijau” yang berperan sebagai pelindung alami serta mendukung keberlangsungan ekosistem pesisir. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa akar mangrove, seperti Rhizophora sp. dan Avicennia sp. , dapat mengurangi energi gelombang hingga 66% sebelum mencapai pantai. Perlindungan ini tidak hanya mengurangi abrasi, tetapi juga membantu menstabilkan sedimen dan mengurangi intrusi air laut ke daratan.
Ada sejumlah model hidrodinamika yang menunjukkan bahwa hutan mangrove merupakan unsur paling efektif dalam menghadapi risiko di pesisir, bahkan lebih daripada struktur buatan seperti dinding beton. Namun, dengan ironis, pengalihan fungsi mangrove untuk kepentingan tambak intensif, industri, dan reklamasi semakin meningkat, sehingga kita justru menghilangkan perlindungan yang seharusnya kita perkuat dalam menghadapi krisis iklim.

Sumber: YKAN (Yayasan Konservasi Alam Nusantara)
BACA JUGA: Babel Hadapi Krisis Mangrove: Ancaman Abrasi dan Banjir Semakin Dekat
Dari sudut pandang ekologi, hutan mangrove adalah lingkungan penting bagi banyak organisme. Mereka berfungsi sebagai tempat pemijahan, area untuk mencari makanan, dan lokasi berlindung bagi ikan, udang, kepiting, serta berbagai biota pesisir lainnya. Hilangnya fungsi ini menghasilkan efek beruntun. Menurunya jumlah ikan bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga menjadi masalah ekonomi bagi komunitas pesisir yang sangat bergantung pada keberlangsungan siklus biota tersebut.
Banyak penelitian tentang ekonomi lingkungan menunjukkan bahwa kerugian dari hilangnya ekosistem mangrove jauh lebih besar dibandingkan dengan keuntungan jangka pendek dari perubahan penggunaan lahan. Sayangnya, banyak pemerintah daerah masih menganggap mangrove sebagai “lahan tidak terpakai” yang tidak memiliki nilai ekonomi yang jelas.
Namun, jika dilihat dari sudut pandang ilmiah, ekosistem ini memberikan manfaat dalam penyerapan karbon biru yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hutan di daratan. Indonesia bahkan memiliki salah satu cadangan karbon biru terbesar di seluruh dunia. Mengabaikan potensi ini berarti Indonesia kehilangan instrumen penting dalam mitigasi perubahan iklim dan peluang pembiayaan konservasi berbasis karbon yang terus berkembang secara global.

Tantangan Rehabilitasi dan Pentingnya Pengelolaan Mangrove Berbasis Sains
Program rehabilitasi mangrove yang selama ini dilakukan sering kali bersifat seremonial dan tidak berbasis sains. Proses penanaman dilakukan di tempat yang tidak sesuai dengan keadaan pasang surut, menggunakan jenis yang kurang tepat, dan tanpa dilakukan perawatan yang berkelanjutan. Banyak bibit yang tidak bertahan hidup karena penanaman dilakukan di zona intertidal yang terlalu dalam, atau tanpa adanya analisis mengenai hidrodinamika dan salinitas yang cukup.
BACA JUGA: Krisis Iklim Memperparah Banjir: Bencana Alam atau Ulah Manusia?
Metode ini menciptakan “ilusi kehijauan” seolah-olah restorasi dilakukan, padahal sebenarnya tidak memberikan perbaikan yang signifikan secara ekologis. Dari sudut pandang pengelolaan, pelestarian mangrove perlu melibatkan berbagai sektor: perencanaan wilayah pesisir, pengelolaan perikanan, upaya pengurangan risiko bencana, dan kebijakan terkait perubahan iklim. Namun sampai saat ini, kebijakan tersebut seringkali dilaksanakan secara terpisah.
Akhirnya, mangrove tidak hanya merupakan jenis pohon yang tumbuh di daerah pasang surut. Ini adalah ekosistem yang menggabungkan perlindungan pantai, penyediaan makanan, penyerapan karbon, dan dukungan untuk stabilitas geologi. Melindungi mangrove berarti melindungi masyarakat di pesisir serta masa depan sumber daya laut di Indonesia.
Saat erosi jadi semakin parah dan permukaan laut terus meningkat, mengabaikan mangrove bukan sekadar kelalaian lingkungan, melainkan juga kesalahan penting dalam perencanaan pembangunan.













