PANGKALPINANG – Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna menaruh perhatian serius terhadap kasus perundungan yang masih terjadi di sejumlah satuan pendidikan. Ia menilai persoalan bullying belum sepenuhnya hilang dan membutuhkan keterlibatan bersama untuk ditangani secara menyeluruh.
Perundungan Masih Menjadi Persoalan Serius
Dessy memandang praktik perundungan di lingkungan sekolah kerap tidak terlihat secara langsung. Meski tidak selalu muncul ke permukaan, kasus bullying dinilai masih berpotensi terjadi dan dapat berdampak besar terhadap kondisi korban, terutama dari sisi psikologis.
Setiap laporan yang diterima, menurutnya, tidak bisa langsung disimpulkan begitu saja. Pemerintah kota memilih melakukan penelusuran awal dengan melibatkan pihak sekolah serta korban untuk mendapatkan gambaran yang utuh.
BACA JUGA: Andy Pratama Soroti Peran Aktif Dessy Ayu Trisna di 100 Hari Awal Pemerintahan
Pentingnya Klarifikasi dan Pengecekan Fakta
Dalam menangani laporan perundungan, Dessy menekankan perlunya proses pengecekan berlapis. Ia menilai sudut pandang korban, orang tua, dan pihak sekolah kerap berbeda, sehingga klarifikasi menyeluruh menjadi langkah penting untuk memastikan kejadian yang sebenarnya.
Langkah tersebut mencakup penelusuran penyebab perundungan, kebenaran laporan, serta tindakan yang telah dilakukan oleh sekolah maupun Dinas Pendidikan.
Penanganan Tidak Bisa Parsial
Dessy menegaskan bahwa penanganan bullying tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan koordinasi dan kolaborasi lintas pihak, mulai dari sekolah, Dinas Pendidikan, orang tua, hingga penggiat perlindungan anak yang selama ini aktif menyampaikan laporan kepada pemerintah.
Menurutnya, sinergi antarpihak menjadi kunci agar penanganan kasus berjalan efektif dan tidak berhenti pada penyelesaian sementara.
Pendampingan Psikologis dan Pendidikan Karakter
Selain penanganan kasus, Dessy juga menyoroti pentingnya pendampingan konseling bagi korban perundungan. Dampak bullying dinilai tidak hanya berupa luka fisik, tetapi juga dapat menimbulkan trauma psikologis jangka panjang yang berpengaruh hingga dewasa.
Perhatian terhadap isu perundungan tersebut sejalan dengan pandangan Dessy mengenai pentingnya pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter, nilai kemanusiaan, empati, serta kemampuan memanusiakan sesama sejak dini di lingkungan sekolah.

Dorong Pemantauan dan Pencegahan Berkelanjutan
Sebagai langkah lanjutan, Dessy meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang untuk terus melakukan pemantauan serta penanganan serius terhadap setiap laporan perundungan. Upaya pencegahan di lingkungan sekolah juga dinilai penting agar kasus serupa tidak terus berulang.
Pemerintah kota berharap, dengan pengawasan yang konsisten dan koordinasi yang kuat, praktik perundungan dapat dicegah atau setidaknya ditangani secara tepat dan menyeluruh. (Rz)













