Ketika wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diamati dari atas melalui citra satelit, ruang tidak terbaca sebagai satu kesatuan yang merata. Permukiman muncul dalam kantong-kantong spasial yang tersebar, mengikuti garis pantai, jalur aktivitas manusia, serta kedekatannya dengan infrastruktur dasar.
Pendekatan spasial menunjukkan bahwa akses layanan publik digital tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan atau teknologi, tetapi juga oleh ruang. Jarak, sebaran permukiman, dan keterjangkauan terhadap infrastruktur digital dasar membentuk prasyarat awal sebelum layanan publik berbasis digital dapat diakses oleh masyarakat.
Riset ini mendokumentasikan kondisi tersebut melalui pemetaan spasial berbasis citra Sentinel-2. Pengamatan difokuskan pada keterjangkauan spasial sebagai lapisan awal untuk memahami pemerataan akses layanan publik digital pada wilayah permukiman di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tanpa menilai kualitas layanan atau tingkat pemanfaatan digital.
Keterangan Peta: Wilayah penelitian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dilihat dari citra satelit.
Citra Sentinel-2 menampilkan karakter umum wilayah kepulauan dengan dominasi tutupan vegetasi, garis pantai yang kompleks, serta kawasan terbangun yang tersebar. Visualisasi ini digunakan sebagai konteks awal pengamatan spasial sebelum analisis permukiman dan keterjangkauan akses layanan publik digital dilakukan.
Membaca Permukaan Wilayah dari Atas
Pengamatan citra Sentinel-2 periode rolling dua belas bulan menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Bangka Belitung didominasi oleh tutupan vegetasi, dengan proporsi kawasan terbangun yang relatif terbatas. Nilai indeks vegetasi (NDVI) yang cenderung tinggi dan indeks kawasan terbangun (NDBI) yang rendah menggambarkan karakter permukaan wilayah secara umum.
Dari sudut pandang ini, permukiman tidak tampak sebagai bentang ruang yang luas dan menyatu. Sebaliknya, ia hadir sebagai kantong-kantong spasial yang tersebar dan terpisah, mencerminkan karakter geografis kepulauan serta perkembangan aktivitas manusia yang tidak seragam antarwilayah.
Pendekatan spektral ini tidak dimaksudkan untuk memetakan bangunan secara presisi atau individual. Ia digunakan untuk menggambarkan pola spasial permukiman indikatif secara konsisten sebagai dasar analisis keterjangkauan akses digital.
Permukiman sebagai Fokus Analisis Spasial
Riset ini secara sadar membatasi pengamatan pada wilayah permukiman indikatif. Pembatasan ini dilakukan untuk menjaga relevansi sosial dari peta yang dihasilkan, dengan menempatkan ruang bermukim sebagai titik fokus analisis.
Ekstraksi permukiman dilakukan menggunakan ambang batas spektral yang bersifat konservatif untuk meminimalkan kesalahan identifikasi dan menghindari overestimasi luasan. Dengan demikian, wilayah yang ditampilkan dipahami sebagai indikasi spasial, bukan representasi absolut seluruh kawasan terbangun.
Infrastruktur Digital sebagai Prasyarat Ruang
Akses layanan publik digital pada tingkat paling dasar memerlukan keberadaan infrastruktur telekomunikasi. Dalam riset ini, lokasi Base Transceiver Station (BTS) digunakan sebagai proksi spasial pusat layanan digital dasar.
Setiap titik BTS diberi jangkauan indikatif dengan radius tiga kilometer. Pendekatan ini digunakan sebagai ukuran operasional yang bersifat konservatif untuk merepresentasikan keterjangkauan spasial layanan seluler dasar, terutama pada wilayah non-perkotaan. Pendekatan ini dipilih untuk menjaga konsistensi perbandingan antarwilayah dan tidak ditujukan untuk menggantikan pemodelan teknis propagasi sinyal telekomunikasi. Radius tersebut tidak dimaksudkan sebagai jangkauan teknis maksimum jaringan, melainkan sebagai alat pembanding spasial yang konsisten antarwilayah.
Grafik: Luasan Wilayah, Blank Spot Internet, dan Keterbatasan Akses Digital (Indikatif)
Keterangan Grafik: Perbandingan luasan wilayah administratif, blank spot internet indikatif, serta permukiman dengan keterbatasan keterjangkauan layanan publik digital per kabupaten/kota. Visualisasi data menunjukkan variasi luasan absolut antarwilayah yang mencerminkan karakter geografis dan sebaran permukiman, serta tidak dimaksudkan untuk merepresentasikan kualitas layanan, kapasitas jaringan, maupun tingkat pemanfaatan layanan digital.
Ketika Lapisan Peta Ditumpuk
Saat peta permukiman indikatif ditumpangkan dengan jangkauan spasial infrastruktur digital dasar, muncul wilayah-wilayah permukiman yang berada di luar keterjangkauan indikatif layanan publik digital. Wilayah inilah yang dalam riset ini dikategorikan sebagai permukiman dengan keterbatasan akses layanan publik digital.
Secara agregat, pemetaan menunjukkan bahwa sekitar 3,08% wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, atau setara dengan lebih dari 12 ribu hektare ruang permukiman indikatif, berada di luar jangkauan spasial prasyarat akses digital dasar. Temuan ini tersebar di seluruh kabupaten dan kota dengan variasi luasan absolut antarwilayah.
301.685
Blank Spot Internet (ha):
10.760,41
2.721,08
NDVI Rata-rata: 0,46
NDBI Rata-rata: −0,12
285.141
Blank Spot Internet (ha):
8.713,10
2.213,12
NDVI Rata-rata: 0,48
NDBI Rata-rata: −0,14
225.998
Blank Spot Internet (ha):
8.279,89
2.077,24
NDVI Rata-rata: 0,45
NDBI Rata-rata: −0,11
359.824
Blank Spot Internet (ha):
12.313,93
3.149,24
NDVI Rata-rata: 0,47
NDBI Rata-rata: −0,13
227.071
Blank Spot Internet (ha):
3.977,35
753,82
NDVI Rata-rata: 0,50
NDBI Rata-rata: −0,16
258.840
Blank Spot Internet (ha):
5.787,20
850,59
NDVI Rata-rata: 0,49
NDBI Rata-rata: −0,15
10.454
Blank Spot Internet (ha):
1.521,29
395,61
NDVI Rata-rata: 0,38
NDBI Rata-rata: −0,05
Keterangan Tabel: Ringkasan indikator wilayah administratif, blank spot internet indikatif, dan luasan permukiman dengan keterbatasan keterjangkauan akses layanan publik digital per kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Tabel ini menyajikan luasan wilayah, blank spot internet indikatif, luasan keterbatasan akses layanan publik digital, serta nilai rata-rata NDVI dan NDBI sebagai konteks karakter permukaan wilayah. Data disajikan secara agregat pada tingkat kabupaten/kota dan tidak dimaksudkan untuk merepresentasikan kualitas layanan, kapasitas jaringan, maupun tingkat pemanfaatan layanan digital.
Pola Spasial, Bukan Penilaian
Luasan keterbatasan akses yang lebih besar tidak secara langsung menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi. Wilayah dengan luas administratif yang besar cenderung menghasilkan luasan keterbatasan absolut yang lebih tinggi, sementara wilayah yang lebih kecil dapat tampak menonjol secara persentase.
Oleh karena itu, hasil riset ini dibaca sebagai pola spasial, bukan sebagai peringkat atau penilaian kinerja. Peta menunjukkan di mana keterbatasan berpotensi terjadi, tanpa menyederhanakan kompleksitas wilayah menjadi satu indikator tunggal.
Blank Spot Internet sebagai Konteks Spasial
Wilayah dengan luasan blank spot internet indikatif yang relatif besar menunjukkan keterkaitan spasial yang bersifat kontekstual dengan keterbatasan keterjangkauan layanan publik digital pada wilayah permukiman. Keterkaitan ini bersifat spasial dan berlapis, bukan hubungan sebab-akibat langsung.
Dalam riset ini, blank spot internet diposisikan sebagai latar ruang untuk membantu membaca keterjangkauan spasial akses digital, tanpa dimaksudkan sebagai penjelasan tunggal atas kondisi layanan publik digital.
Apa yang Ditunjukkan Peta, dan Apa yang Tidak
Peta dalam dokumentasi ini tidak menunjukkan kualitas layanan, kecepatan jaringan, kapasitas infrastruktur, maupun tingkat pemanfaatan layanan publik digital. Peta juga tidak dimaksudkan untuk menilai keberhasilan atau kegagalan kebijakan tertentu.
Yang ditampilkan adalah keterjangkauan spasial—jarak antara permukiman dan prasyarat akses digital dasar. Dalam konteks wilayah kepulauan, informasi ini menjadi lapisan awal yang penting untuk memahami pemerataan layanan publik digital secara lebih utuh.
Sebagai dokumentasi berbasis penginderaan jauh, riset ini melengkapi data administratif dengan perspektif ruang yang kontinu. Ia tidak memberikan vonis, melainkan menyediakan cara melihat wilayah dari atas untuk memahami bagaimana ruang membentuk kemungkinan akses di tingkat permukiman.
Riset & Analisis Spasial: Tim Riset Lawang Pos
Metodologi: Analisis Citra Sentinel-2, NDVI–NDBI, dan overlay spasial infrastruktur digital
Sumber Data: Sentinel-2 (ESA), FAO GAUL, data BTS terbuka





