PANGKALPINANG – Banjir kembali melanda berbagai daerah di Indonesia, dan setiap kali itu terjadi, pertanyaan yang sama muncul apakah ini murni bencana alam, atau justru dampak dari ulah manusia? Di tengah perubahan iklim yang semakin tak terbantahkan, persoalan banjir kini bukan lagi sekadar fenomena musiman, tetapi juga menunjukkan seberapa lemah hubungan kita dengan lingkungan.
Di tengah krisis iklim global, intensitas dan pola hujan berubah drastis. Fenomena hujan ekstrem terjadi lebih sering, bahkan dalam hitungan jam mampu menimbulkan debit air yang setara dengan curah hujan bulanan. Sumber: https://unesco.or.id/informasi-umum/bmkg-beberkan-penyebab-banjir-sumatera/.
Hal ini membuat risiko banjir semakin tinggi, terutama di daerah yang sudah lemah secara ekologis. Namun, hanya menyalahkan alam saja tidaklah memadai. Ada faktor dari manusia yang tidak bisa diabaikan.
Faktanya, banyak wilayah di Indonesia kehilangan kemampuan alaminya untuk menyerap air. Hutan-hutan digunduli, rawa-rawa dan daerah resapan dialihfungsikan menjadi kawasan industri. Ketika hujan turun, air tidak lagi menemukan tempat untuk meresap. Ia hanya mengalir bebas mencari ruang terendah dan di situlah pemukiman warga berada.
Lebih parah lagi, izin pembangunan sering kali diterbitkan tanpa kajian lingkungan yang memadai. Sungai-sungai menyempit sehingga sedimentasi tak terkendali, sungai kehilangan kapasitas alaminya untuk menahan debit air tinggi. Dalam kondisi seperti ini, hujan lebat menjadi pemicu, tetapi kehancuran ekologi-lah yang menjadi penyebab utama.

Krisis iklim hanyalah mempercepat dampak dari kerusakan yang sudah kita buat sendiri. Jika dahulu banjir besar mungkin terjadi hanya sekali dalam satu dekade, kini intensitasnya meningkat menjadi tahunan bahkan bulanan. Ini bukan lagi bencana alam semata, melainkan juga akibat dari cara berpikir dan pilihan manusia yang tidak peduli terhadap kapasitas lingkungan.
BACA JUGA: Bangka Belitung dan Bayang-bayang Bencana Sumatra: Ketika Alam Mengirim Peringatan yang Kita Abaikan
Ironisnya, narasi yang dibangun saat banjir sering kali menempatkan alam sebagai tersangka utama. Seolah-olah hujan ekstrem adalah satu-satunya alasan. Padahal kenyataannya, banjir adalah akumulasi dari pilihan pembabatan hutan yang mengorbankan fungsi ekologis demi keuntungan jangka pendek, hanya fokus pada aspek ekonomi tanpa memikirkan keberlanjutan lingkungan.
Rehabilitasi hutan dan sungai tidak boleh sekadar menjadi slogan proyek, melainkan tindakan konkret yang diukur keberhasilannya. Kawasan resapan harus dikembalikan ke fungsi asalnya, bukan dibiarkan berubah menjadi kawasan komersial. Masyarakat pun memiliki peran penting, hingga ikut terlibat dalam pemulihan ruang hijau adalah langkah kecil namun signifikan. Menghadapi krisis iklim tidak cukup hanya dengan bergantung pada pemerintah, tetapi harus ada usaha bersama.
Kini, sudah saatnya kita berhenti menyebut banjir sebagai “bencana alam”. Istilah tersebut menciptakan pandangan seolah-olah kita tidak berperan atau tidak bisa mengendalikan situasi tersebut. Padahal, kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini adalah cermin dari kebijakan yang lemah, kebiasaan yang keliru, dan pemahaman yang kurang terhadap pentingnya keseimbangan alam.
Krisis iklim memang memperparah banjir. Namun yang mempercepat, memperluas, dan memperdalam dampaknya tidak lain adalah manusia dengan segala aktivitas dan kelalaiannya.













